TEMA : Bapak: Pelopor Spiritualitas Keugaharian
Bacaan Alkitab : Lukas 3:10-14

Shalom,

Hari ini merupakan hari sukacita P/KB Gereja Masehi Injili di Minahasa yang diperkenankan Tuhan memasuki usia yang ke-55. Angka 55 menunjuk pada dua angka yang sama/ganda.  Dari sisi iman dapat dikaitkan dengan berkat Tuhan yang berkelimpahan tetapi juga menunjuk pada  tugas ganda dari pria kaum bapa. Pria kaum bapa memiliki peran strategis dalam keluarga, kerja dan pelayanan.

Momen  ini mengajak kita untuk mensyukuri berkat Tuhan tetapi juga untuk mengevaluasi kinerja kita, sejauh mana  keberhasilan atau mungkin kegagalan kita dalam menjalankan peran yang dipercayakan Tuhan bagi kita.

Sukacita hari ini masih menyisakan pergumulan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sementara ini kita bergumul bahwa masih ada juga keluarga yang kehilangan figure seorang ayah dan ketokohan seorang bapa dalam dunia kerja dan pelayanan. Peran itu tidak serta merta dapat digantikan oleh seorang isteri dan ibu sekalipun kita mengakui bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra kerja yang sejajar.  Mengapa ini disampaikan karena saat ini kita sedang mengalami krisis budaya dan kepemimpinan serta makin maraknya penyim-pangan seksual (LGBT), HIV-AIDS, KDRT, korupsi, mabuk-mabukan, radikalisme dan intoleransi. Kendati, masih banyak juga PKB yang tetap eksis menjaga profil dan ketokohannya sebagai seorang bapa yang bertanggung jawab untuk menjaga dan melindungi keluarganya.

Firman Tuhan hari ini kiranya memberikan hikmat bagi PKB GMIM untuk menjadi pelopor spiritualitas keugaharian. Apa yang dimaksud dengan spiritualitas keugaharian ? Mengapa pria kaum bapa harus berada di garda terdepan menjadi pelopor sikap keugaharian? Spiritualitas keugaharian adalah ajaran hidup sederhana dan berkecukupan. Hal ini diseru-serukan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia kepada seluruh gereja di Indonesia untuk mengajarkan umatnya tentang spiritualitas keugaharian sebab kesederhanaan merupakan cara hidup yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia.

Di usia yang ke-55 ini, P/KB GMIM diajak untuk mengem-bangkan sikap keugaharian; yaitu etos hidup sederhana dan berkecukupan, sembari membangun jejaring bersama, baik gereja maupun antar iman guna menemukan nilai dan kepen-tingan bersama. Hal ini harus dibangun mulai dari keluarga dan tempat dimana kita bekerja. Hidup sederhana dan merasa cukup akan mampu mengendalikan nafsu dan keserakahan manusia yang tidak pernah merasa puas.

Sekarang ini di semua lini menjadi ajang mengumbar nafsu dan amarah, termasuk model ekonomi kita yang lebih mengumbar keserakahan demi meraup keuntungan sendiri. Uang rakyat pun sering nyasar di kantungnya orang yang tak bertanggung jawab. Hal ini menciptakan kemiskinan struktural, pengangguran dan jurang pemisah antara si kaya dan miskin. Orang kaya semakin kaya dan orang miskin makin menderita. Orang ugahari tahu akan batas-batas diri, tidak serakah dan tidak ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan orang lain. Ia tidak merasa paling benar,  “nyanda’ stel tau, tapi tau stel”, “tidak merasa pinter tapi pinter merasa”. Merasa paling benar dan mengetahui segalanya hanya akan membuka ruang konflik apalagi mengatasnamakan agama sebagai kebenaran satu-satunya. Cara hidup seperti inilah disampaikan oleh Yohanes kepada orang banyak. Ia menyerukan berita pertobatan. Pertobatan tidak hanya berganti pemikiran tetapi berubahnya gaya hidup sesuai dengan kehendak Allah. Hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (Yohanes 3:8). Apakah yang harus kami perbuat? Pertanyaan ini memiliki implikasi praktis, bahwa orang yang mendengar firman berbuat sesuai yang ia dengar. Jadi pertobatan berkaitan dengan cara hidup setiap hari. Barangsiapa mempunyai dua helai baju dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah membaginya dengan yang tidak punya. Yohanes tidak menyarankan hal-hal yang sulit dibuat tetapi yang biasa dilakukan setiap hari. Dua helai baju dan makanan mengindikasikan atas kebutuhan pokok. Hidup memberi dan berbagi bukan soal nanti bila kita memiliki kelebihan tetapi dalam keadaan cukup pun kita harus berbagi. Inilah juga maksud pertobatan yaitu kemurahan hati.

Para pemungut cukai  yang datang untuk dibaptis, bertanya kepadanya: Guru, apakah yang harus kami perbuat?  Jangan menagih (Yun=: πρασσω prasso: menagih, memungut, mengumpulkan) lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu. Pekerjaan sebagai pemungut cukai bukanlah masalah tapi cara bekerjanya. Jabatan atau pekerjaan, jangan menjadi alat ketamakan dan kerakusan. Indikasinya adalah menambah beban, membayar lebih dan menghalalkan sogok/suap. Hal ini tidak boleh dilakukan. Di dunia kerja pun, harus mengalami perubahan, harus bertobat. Bila dengan sengaja mengulur waktu, menambah dan mengharapkan pembayaran lebih dari semestinya, harus bertobat. Cara kerja seperti ini tidak efisien, efektif apalagi produktif. Mengapa demikian karena dipengaruhi oleh gaya hidup. Gaya hidup yang  mengutamakan kenikmatan dan pengejaran akan materi berdampak pada pola kerja. Orang menjadi tamak dan rakus, semua di sikat habis-habisan. Semata-mata untuk meraup keuntungan, apa saja bisa dilakukan. Tak peduli ada yang dikorbankan yang penting mengalir pundi-pundi uang untuk diri sendiri. Model kerja seperti dikenal dengan gaya katak, kaki menendang, tangan menyikut. Asalkan menguntungkan tak peduli dengan penderitaan orang lain. Milik orang lain pun disikat habis-habisan.

Kritikan tajam juga disampaikan kepada para prajurit, yang bertanya: Apakah yang harus kami perbuat? Yohanes menjawab, jangan merampas dan memeras dan cukupkanlah dirimu (arkew =cukup, pasif merasa puas) dengan gajimu. Para prajurit yang seharusnya mengayomi dan melindungi masya-rakat atas nama hukum. Tidak bisa bertindak melampaui kapasitas mereka. Merampas dan memeras adalah meman-faatkan ketidakberdayaan kaum miskin dan lemah. Apa artinya jika lembaga hukum tidak menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan. Karena itu bagi penegak hukum cukupkanlah dirimu dengan gajimu. Hidup dengan sederhana dan berkecukupan adalah gaya hidup keugaharian. Inilah berita pertobatan yang disampaikan Yohanes kepada orang banyak, para pemungut cukai dan prajurit.

Pertanyaan orang banyak, pemungut cukai dan prajurit kepada Yohanes harus menjadi pertanyaan kita di sini. Apakah yang harus kami perbuat sebagai P/KB GMIM di HUT ke-55? Pertanyaan yang sama ini ditanyakan oleh tiga kelompok orang yang berbeda profesi ini mewakili 3 elemen masyarakat. Orang banyak mewakili masyarakat, pemungut cukai mewakili  mereka yang bekerja di lembaga/instansi, pemerintah atau swasta dan prajurit mewakili mereka yang berjuang di bidang penegakkan hukum dan keamanan.

Orang yang tidak mau bertanya adalah orang yang tidak mau bertobat. Ia tidak ingin mengambil bagian dalam suatu peru-bahan hidup, membangun persekutuan gereja dan masyarakat. Pertobatan harus dimulai dari sendiri, suatu kesadaran dan komitmen membangun kehidupan lebih baik lagi.

Di tengah tawaran dunia yang membuat kita merasa tidak cukup dan puas, maka hari ini dalam perayaan HUT PKB ke-55 kita diajak untuk menjadi pelopor spiritualitas keugaharian. Sebagai berita pertobatan untuk hidup sederhana dan berkecukupan. Sebab sesungguhnya orang yang kaya adalah orang sedikit keinginannya, memiliki kemurahan hati dan tak pernah berhenti bersyukur. Amin.

 

SHARE
Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ? Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here