TEMA : “Sehat Lahir Batin
Bacaan Alkitab : Yohanes 5:1-18

 Kota Yerusalem sangat ramai, ketika Yesus hadir di sana, sebab pada saat itu adalah hari raya orang Yahudi. Di sana Yesus berjumpa banyak orang sakit, secara khusus ketika Dia berada di kolam Betesda, tempat orang-orang buta, timpang dan lumpuh berbaring atau duduk, di lima serambi yang melindungi mereka dari terik sinar matahari.

    Betesda mempunyai arti rumah rahmat, rumah kerahiman atau rumah pengasihan. Kolam ini terletak dekat pintu gerbang domba atau pintu domba dan berada di sebelah utara Bait Allah Yerusalem, yang di bangun sesudah masa pembuangan.

    Di kolam Betesda itu ada seorang yang sudah 38 tahun menderita sakit. Tiga puluh delapan tahun dalam penderitaan sakit dan tidak berdaya adalah penderitaan yang panjang dan bukan hal yang mudah. Sebab dengan fisik yang sakit, maka dari aspek jasmani ia menderita dan secara mental dia pasti tertekan, kecewa dan merasa tidak dipedulikan. Kemudian dalam interaksi sosial, dia di jauhi orang. Hal ini nampak dalam perkataannya bahwa tidak ada seorangpun yang menolongnya untuk masuk kolam dan yang pasti secara rohani, orang itu tidak memiliki persekutuan ibadah kepada Tuhan.

    Setiap orang yang sakit dapat sembuh di kolam Betesda, namun syaratnya sangat mahal dan sukar, yaitu siapa yang sakit dan lebih dahulu masuk ke dalam kolam setelah goncangan air yang dahsyat dari malaikat Tuhan di kolam itu, pasti sembuh. Peluang kesembuhan seperti itu lebih banyak dimiliki oleh orang-orang kaya, sebab ketika air kolam bergoncang, budak-budak membawa mereka dengan cepat ke kolam itu, maka sembuhlah mereka. Sedang orang-orang miskin yang tidak punya orang khusus untuk menolong, semakin jauh dan lama meraih kesembuhan. Mereka hanya menunggu orang yang mau berbelas kasihan.

Momen berharga seperti itu tidak pernah dimiliki oleh si lumpuh, karena dengan ketidak berdayaannya, ia tidak mampu meraih kesempatan mengalami mujizat kesembuhan dari goncangan air kolam Betesda, sampai Yesus menjumpai dia.

    Dalam kondisi dan perasaan yang tidak nyaman akibat penderitaannya, Yesus memberi pertanyaan ‘maukah engkau sembuh?’. Orang sakit itu bukan menjawab ya, tapi dari jawabannya bahwa tidak ada yang menolong dia ke kolam,  terungkap rasa putus asa dan  kesendiriannya di antara orang banyak. Sehingga ketika tawaran kesembuhan disodorkan Yesus, maka tidak ada tempat atau pribadi lain yang di tunjuknya, selain dari dan pada kolam Betesda yang ada di depan matanya, tapi yang tidak berdaya dijangkaunya.

    Yesus bukan hanya menawarkan kesembuhan, tapi Yesus langsung menyembuhkan, dengan berkata ‘bangunlah, angkat-lah tilammu (kasur tempat tidur) berjalanlah. Proses pemulihan itu membuat si sakit harus berusaha dan tidak tinggal diam, serta jangan menjadi tergantung dengan apa yang ada di depan mata, juga tidak bergantung pada manusia, melainkan kepada kuasa dan Pribadi yang memberikan kesembuhan itu, yaitu Yesus sendiri.

    Yesus tidak membuat si sakit untuk beralternatif (membuat pilihan) terhadap keadaannya, melainkan menantang si sakit supaya beralternasi (bertukar tempat), yaitu dari keadaan tertidur dan tak berdaya, menjadi kuat dan berdaya guna; dari seorang yang hanya biasa menerima belas kasihan orang lain, menjadi orang yang dapat berinteraksi dengan sesama, mengenal lingkungan, sungguh-sungguh berusaha dan mengambil bagian dalam persekutuan dengan orang percaya di rumah Tuhan.

    Kesembuhan telah membuat orang lumpuh itu menjadi gembira, ia dapat hadir dalam komunitas sosial, tetapi tindakannya mengangkat tilam disalahkan oleh kaum Yahudi, sebab hari itu adalah Sabat bagi mereka. Hari Sabat adalah hari istirahat bagi umat Yahudi dan mereka tidak boleh melakukan pekerjaan apapun pada hari itu, termasuk mengangkat tilam.

    Di tengah realitas yang mengancam tindakannya, orang yang baru sembuh itu membela diri dan rupanya dia tidak mau disalahkan, maka dia mencari cara aman, dengan menuding Yesus sebagai penyebab dia mengangkat tilam di hari Sabat. Orang yang baru sembuh itu, bukannya berterima kasih kepada Yesus, tetapi justru memancing amarah orang Yahudi terhadap Yesus, menjadi bertambah-tambah.

     Tindakan Yesus menyembuhkan orang di hari Sabat adalah sebuah proklamasi, untuk menunjukkan kuasa ke-Ilahi-an-Nya, sekaligus untuk menemplak sistem kepercayaan orang Yahudi yang telah melebih-lebihkan larangan Taurat, sehingga mengorbankan hal yang hakiki dalam hidup manusia, yaitu belas kasihan Allah.

    Bagi Yesus, ketaatan kepada hukum Taurat, jangan dijadikan alasan bagi seseorang untuk menghindari tindakan berbuat baik pada hari Sabat. Yesus bukan tidak menghargai hari Sabat, tetapi Yesus mau mengajarkan bahwa kegiatan ibadah jangan hanya seremonial belaka dan tidak menjadikan kegiatan ibadah sebagai alasan untuk tidak menolong orang yang sangat membutuhkan atau memberi hak kepada mereka yang patut menerimanya.

    Setelah peristiwa penyembuhan, Yesus hadir di Bait Allah, lalu menyampaikan nasehat, seruan pertobatan dan peringatan penghukuman kalau berbuat dosa lagi, bagi  orang yang sudah sembuh itu. Inilah keajaiban, kedaulatan dan kebesaran cinta kasih Kristus. Saat berjumpa pertama dengan si sakit, orang itu tak berdaya dan penuh kesepian di kolam Betesda. Tapi perjumpaan selanjutnya ialah di rumah Tuhan. Namun ironis, orang yang baru sembuh itu bukan menyimak perkataan Yesus, justru dia keluar dan menyampaikan pada orang Yahudi bahwa Yesus yang telah menyembuhkannya.

    Mujizat kesembuhan tidak membuka mata si lumpuh yang sudah berjalan itu, untuk semakin mengenal siapa Yesus dan terus mengalami anugerah Allah dalam hidupnya. Melainkan dia menghindari Yesus dan mau mencari pujian kepada orang Yahudi, yang mencari tahu siapa yang menyembuhkan dia. Sehingga orang Yahudi semakin membenci Yesus dan berusaha untuk menganiaya Yesus. Tapi Yesus mengemukakan alasan,  bahwa segala sesuatu yang dilakukan-Nya adalah bagian dari anugerah keselamatan yang harus terus dikerjakan dan sebagai tanda ketaatan-Nya, sebagai Anak kepada Bapa di Sorga.

    Berita Alkitab ini menunjukkan kepada kita bahwa kesem-buhan dan hidup sehat adalah hak setiap orang dan Allah di dalam Yesus Kristus adalah Sumber kesembuhan dan hidup sehat itu. Sehat adalah suatu keadaan atau kondisi yang penting bagi manusia sepanjang hidupnya, dalam rangka peningkatan kwalitas kesejahteraan jiwa dan produkifitas dalam kehidupan sosial, maupun ekonomi. Itu berarti dalam pencapaian hidup produktif dan sejahtera, maka hidup sehat yang dimaksud di sini ialah ada keseimbangan antara sehat secara jasmani, mental, sosial, ekonomi dan rohani.

    Firman Tuhan mengajarkan supaya dalam upaya meraih kesembuhan atau menjadi sehat, jangan mengandalkan kemampuan sendiri, kekayaan dan kuasa, sebab semua itu terbatas. Tetapi kuasa kasih karunia dan rahmat Tuhan melebihi segala-galanya bagi orang yang sakit untuk meraih kesembuhan. Jangan bergumul sendiri, tapi pandang pada Yesus, Tabib Agung yang setia.

    Dalam pelayanan terhadap orang sakit, beri mereka harapan bukan pergumulan. Sebab saat sakit, seseorang sering merasa tidak berharga dan kalau mereka diabaikan, maka ketidak berdayaan akan menutup semua peluang mereka untuk meraih harapan hidup sehat. Juga bersikaplah ramah dan sabar dalam melayani, jangan pilih-pilih orang karena status dan jabatan. Sebab Yesus Kristus, sang Penyembuh sejati, tidak pernah pilih-pilih siapa yang akan disembuhkan-Nya. Untuk menjadi sehat atau melakukan pelayanan menuju sehat, jangan terikat oleh tradisi. Pekerjaan selamat, termasuk penyembuhan secara holistik, yaitu sehat lahir batin harus terus dilestarikan orang-orang percaya, kita gereja Tuhan dimasa sekarang, supaya kita terus dapat menghadirkan suasana Shalom bagi semua orang, gereja dan masyarakat. Terpujilah Tuhan Yesus. Amin.

SHARE
Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ? Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here