TEMA : “Bapak yang Berhikmat”
Bahan Alkitab : Yakobus 3:13-18

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Shalom bagi kita sekalian.

Dalam kalender gerejawi, lima puluh hari sesudah Paskah dirayakan sebagai hari Pentakosta sebagaimana istilah Yunani “pentekoste“ yang artinya hari kelimapuluh. “Awalnya” pera-yaan pentakosta ini, dikalangan umat Israel dihubungkan de-ngan perjanjian yang dibuat dengan Nuh (Kejadian 8:20-22) dan kemudian dengan turunnya sepuluh hokum Taurat yang diberikan Allah kepada Musa di atas bukit Sinai. Dalam peraturan Taurat perayaan ini harus dirayakan untuk selama-lamanya (Imamat 23:21) dan semua orang laki-laki harus meng-hadirinya (Ulangan 16:16) disamping itu perayaan Pentakosta disebutkan juga sebagai hari pengucapan syukur atas hasil panen gandum yang dirayakan selama tujuh minggu (Ulangan 16:10). Tradisi perayaan Pentakosta dirayakan juga sampai zaman perjanjian Baru dan dihubungkan dengan turunnya Roh Kudus. Kisah para rasul menceriterakan bagaimana orang-orang percaya berkumpul di Yerusalem dan kemudian Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api turun atas mereka sehingga para murid dapat berbicara dalam berbagai bahasa sehingga injil dapat dimengerti oleh orang yang datang dari berbagai bangsa. Selanjutnya oleh tuntunan Roh Kudus injil semakin tersebar keseluruh penjuru dunia dan kita pahami bahwa Roh Kuduslah yang menuntun gereja Tuhan hingga kini, termasuk Gereja Masehi Injili di Minahasa.

Dalam perayaan pentakosta hari ini sekaligus perayaan hari persatuanPria/Kaum Bapa GMIM, kepada kita diperdengarkan bagian Alkitab dari kitab Yakobus yang berisikan nasehat dan petunjuk tentang bagaimana umat Allah harus hidup sebagai mana kehendak Allah,  yang pada intinya bagaimana hidup mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Yakobus. 2:8). Secara khusus dalam bagian perikop ini penulis kitab Yakobus mengkritisi bagaimana cara hidup di tengah persekutuan jemaat. Rupanya ada orang yang menganggap dirinya bijak dan berbudi padahal mereka mendatangkan perpecahan. Itulah sebabnya Yakobus mengajukan sebuah pertanyaan. “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Ini artinya supaya mereka tunjukkan dalam perbuatan nyata. Dan itu harus dinyatakan dengan cara hidup yang baik oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan yakni kerendahan hati.

Bagi Yakobus, ada dua jenis hikmat, yakni hikmat yang dari bawah dan hikmat yang dari atas. Jika jemaat menaruh perasaan iri hati dan mementingkan diri sendiri, janganlah mereka memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Karena semua ini adalah perbuatan daging. Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Yakobus mengidentifikasi dan memberi  ciri-ciri hikmat yang dari atas yakni pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka  yang  mengadakan damai.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.

Jika kita belajar dari bagian Alkitab ini, maka sebagai warga gereja kita diingatkan untuk tidak membanggakan diri dan membesarkan diri sendiri dengan berbagai pengetahuan dan kapasitas diri. Yang terpenting adalah mari tampilkan diri sebagai orang-orang  yang rendah hati. Janganlah ada iri hati yang dapat mengakibatkan perpecahan dan segala macam perbuatan jahat. Konkritnya kita diajak untuk memiliki dan menampakkan cara hidup dengan hikmat yang berasal dari atas dan bukan hikmat yang berasal dari bawah.

Kalau dihubungkan dengan Pria/Kaum Bapa yang hari ini merayakan hari persatuan Pria/Kaum Bapa GMIM, maka harapan kita bersama bahwa setiap anggota Pria/Kaum Bapa dapat hidup sebagai pribadi yang dituntun oleh Roh Kudus dan menjadi orang-orang yang berhikmat dalam tugas dan tanggungjawabnya sebagai pria, suami, ayah dan kepala keluarga, termasuk sebagai opa jika telah mempunyai cucu.

Jika Pria/ Kaum Bapa menjadi Bapak yang berhikmat, maka dapat tampil sebagai pribadi yang murni. Artinya ia akan tampil dengan jati diri yang jelas, yakni pribadi yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Demikianpun pasti keluarganya akan bahagia, karena ia suka damai, ramah, penurut dan penuh belaskasihan. Tentu peran Pria/Kaum Bapa bukan hanya dalam keluarga, tetapi perannya sebagai orang yang berhikmat harus nampak dalam tugas dan tanggungjawabnya di tengah jemaat, masyarakat, bangsa dan negara.

Kita semua percaya bahwa, jika Pria/Kaum Bapa memiliki dan menampilkan diri sebagai bapak yang berhikmat, maka berbagai masalah social termasuk berbagai penyakit masyarakat seperti, judi, perilaku suka mabuk, seks bebas, narkoba, korupsi dan tindakan kejahatan lainnya, termasuk perusakan lingkungan hidup, dapat diatasi. Demikianpun dalam hal keragaman latar belakang sosial, ekonomi, status, jabatan dan warna politik, tidak akan menjadi pembatas dalam interaksi bergereja dan pemerintahan sehingga secara bersama dapat mewujudkan persekutuan dengan damai yang membawa kehidupan bersama. Selanjuntnya kita yakin pula bahwa, keluarga-keluarga warga gereja kita akan menjadi kuat, maka gilirannya jemaat kita akan bertumbuh dan berbuah, dan bangsa kitapun akan kokoh dalam kebhinekaannya. Selamat merayakan hari Pentakosta dan selamat merayakan hari Persatuan Pria/Kaum Bapa sinode GMIM. Terpujilah nama Tuhan. Amin.

SHARE
Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ? Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here