Ketua BPMS GMIM, Pdt.DR.H.W.B. Sumakul:

“Gereja Disebut Gereja Jika Ia Menginjil”

Perjalanan panjang 183 tahun Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen GMIM di tanah Minahasa, disyukuri melalui Ibadah di Auditorium Bukit Inspirasi  Tomohon pada Kamis, 12 Juni 2014. Ribuan peserta hadir dari berbagai unsur, BPMS, MPS, BPPS, Sekretaris Departemen, BPMW, BPMJ hingga Komisi Pelayanan Doa dan Penginjilan(KPDP)jemaat.

Ibadah dipimpin Ketua BPMS GMIM, Pdt.DR.H.W.B.Sumakul dengan mengangkat bacaan Daniel 1:3-9. Dalam Khotbahnya, ia menjelaskan makna HUT PI dan PK ke-183 berefleksi iman dari pekerjaan Tuhan dengan kedatangan Riedel dan Schwarz di tanah Minahasa. Sebelum ke tanah Minahasa, keduanya dididik di Roterdam melalui pendidikan yang menanamkan kedisiplinan dan kesetiaan menjalankan tugas. Menurutnya, pekabaran Injil boleh terjadi secara masal juga karena orang-orang Minahasa yang telah dilatih untuk menuntaskan penginjilansecara menyeluruh. Nilai kesalehan atau kekudusan, penguasaan ilmu, teknologi dan ketrampilan, dipadukan menjadi kualitas yang berguna dalam menginjil dan mendidik.  Belajar dari para penginjil dan Daniel di masa PL, di era kini kita perlu memiliki kekudusan, ketahanan atas tekanan, kesabaran dan ketekunan iman.

“Semoga sebagai gereja reform GMIM makin hari makin berjalan di rel yang sebenarnya,” ujar Pdt. Sumakul. Selain penyiapan kader penginjilan ke daerah lain, GMIM juga perlu mengalokasikan dana dalam ber-PI. Gereja disebut gereja jika ia menginjil. Yang terpenting pula bagaimana regenerasi gereja, Injil diturun-temurunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. PI juga harus bisa memasuki dan mengatasi masalah penyakit masyarakat. Masalah HIV/AIDS, penyalahgunaan Narkoba, sambil terus meningkatkan kualitas pendidikan. Pdt. Sumakul mengajak warga gereja untuk mengikuti gaya hidup Yesus Kristus serta memiliki komitmen seperti Dia, agar GMIM dapat selalu menjadi garam dan terang dunia.

Dalam sambutannya, Wakil ketua BPMS Bidang Hubungan Kerjasama Sinode GMIM, Pdt. DR. Hein Arina mengatakan bahwa ada harapan ke depan, GMIM akan memiliki “mission center”untuk mendidik warga gereja dan sebagai tempat pembentukan “spiritual formation, mission of teaching and counseling”.Pekerjaan gereja haruslah menyentuh kebutuhan sehingga menjadi berkat di Indonesia dan di dunia. Untuk itu warga gereja harus memiliki “hati misi” yang mau berkorban melalui daya dan finansial. Tanggungjawab panggilan itu juga menyangkut pelayanan bagi yang belum mengenal Injil, termasuk Indonesia yang tercatat sebagai bangsa kedua terbesar di dunia yang memiliki kelompok yang belum tersentuh pemberitaan Injil.

GMIM yang dipanggil selaku umat Allah untuk “sending out” atau diutus keluar, kiranya siap berkorban bagi pelayanan PI, pendidikan, kesehatan. Pdt. Arina mengingatkan agar jemaat membantu pengembangan UKIT dan unit-unit kesehatan milik GMIM. Ke depan, kita menjadi generasi yang sukses artinya, mengasihi Tuhan, mencintai gereja, siap berkorban, mau bekerja sekerasnya sehingga menjadi berkat bagi dunia ini. Momen HUT PI dan PK tahun ini, menjadi lebih spesial karena BPMS berdiri melihat akan kebutuhan warga gereja untuk kepentingan pelayanan.

Acara selanjutnya diisi dengan pemberian penghargaan bagi wilayah dan jemaat dalam hal penyetoran sentralisasi oleh Bendahara BPMS Sym. Recky Montong, S.Th. Mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan, ucapan terima kasih mewakili BPMS dibawakan Wakil Sekretaris Bidang Data dan Informasi, Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th. Dalam Ibadah yang ditata menarik bernuansa kedaerahan, para pelayan liturgi yakni Pdt. Ventje Talumepa, Pdt. Melky Tamaka, Pdt. Joice Umboh-Sondakh. Puji-pujian antaranya dari PS SMA Kr. Eben Haezer Manado, Solo Pdt. Lamberti Mandagi, M.Teol dan kelompok musik “girang-girang” Wilayah Bitung VI. (hm/eve)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here