gmim.or.id – Pengucapan Syukur Kota Bitung  pada Minggu (7/10), dirayakan oleh seluruh masyarakat dan jemaat GMIM di Wilayah Bitung VI. Diketahui, pengucapan syukur ini menjadi rangkaian dari pelaksanaan Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) yang adalah program Pemkot Bitung .

Lurah Kelurahan Gunung Woka Kec. Lembeh Utara James Katelang, S.Sos mengatakan, pengucapan syukur Kota Bitung di tahun 2018 ini merupakan program Pemkot Bitung untuk menunjang pariwisata. “Pada umumnya masyarakat sudah tahu tentang Pengucapan Syukur Kota Bitung ini, yang merupakan pelaksanaan yang kedua. Gereja-gereja disini (pulau Lembeh) sepakat merayakan Pengucapan Syukur dalam ibadah. Mereka juga mempersiapkan makanan untuk santap kasih bersama usai ibadah. Bahkan mempersiapkannya juga dirumah masing-masing untuk para tamu, kenalan dan saudara-saudara yang berkunjung. “ terang Katelang.

Lanjut Katelang, Pemkot Bitung juga mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keamanan, sehingga menimbulkan kesan baik bagi para tamu. Bahkan setiap kelurahan turut ambil bagian dalam Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL). “Untuk masalah keamanan tidak gangguan berarti yang ditemui. Jika pun ada, maka kami pihak Kelurahan cepat tanggap dalam menetralkan suasana” pungkas Katelang.

Sementara itu, Ketua BPMJ Bukit Moria Gunung Woka Pdt. Sofie Syane Pamaruntuan, STh mengatakan, meski kemarau sejak bulan Juni lalu menyebabkan hasil perkebunan/pertanian tak dapat dinikmati, namun bagi jemaat yang terpenting adalah bagaimana mensyukuri penyertaan Tuhan. “Sekalipun hasil perkebunan tidak bisa dinikmati tapi bagi kami disini pengucapan syukur tak hanya sebatas keberhasilan panen hasil perkebunan. Mengucap syukur dalam segala hal, itulah yang saya mau tanamkan kepada jemaat disini,” ujar Pdt. Sofie.

Ketua BPMJ Euanggelion Motto Pdt. Hendrik Wattimena, STh mengatakan, dalam ibadah pengucapan syukur anggota jemaat mengumpulkan bahan natura ke rumah Gereja dan juga memberikan persembahan syukur. “Cukup luarbiasa. Dengan kondisi alam yang tidak menentu bahkan kurang menjanjikan tapi jemaat dengan sukacita membawa bahan natura untuk dipersembahkan lewat ibadah pengucapan syukur. Selain itu, jemaat juga memberikan persembahan lewat sampul syukur.” ungkap pria berdarah Ambon ini.

Lain hal dengan Jemaat Bahtera Lirang, sebagaimana yang disampaikan Ketua BPMJ Pdt. Ketty Kolantung-David, STh. Ia mengatakan, jemaatnya tidak melaksanakan jamuan kasih bersama, karena beberapa pertimbangan. “Sesuai keputusan Sidang Majelis Jemaat, maka merayakan pengucapan syukur  lewat ibadah. Tapi tidak ada santap kasih bersama karena beberapa pertimbangan. Untuk tahun ini,  kami berfokus pada persiapan perayaan HUT Jemaat.” ungkap  Pdt. Ketty Kolantung-David, STh.

“Bagi anggota jemaat yang ingin menyiapkan hidangan untuk menyambut kenalan atau keluarga yang datang berkunjung, kami tidak membatasinya. Apalagi di jemaat ini terdapat lokasi wisata Hutan Mangrove yang setiap saat dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara, sehingga BPMJ hanya memberikan himbauan agar merayakannya sesederhana mungkin dalam menyambut para tamu, tanpa pemborosan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. “ pungkas wanita kelahiran Bunaken ini.

(Penulis dan Foto: Frangki Noldy Lontaan. Editor: Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th)