TEMA BULANAN : “Mengembangkan Spiritualitas Pelayanan”
TEMA MINGGUAN : “Memilih dan Menerima Pilihan Dengan Iman”
Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 6:1-7

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Kemajuan dalam bentuk apapun, tidak dapat lepas dari dampak yang ditimbulkannya. Dampak itu bisa positif tapi juga negatif. Dalam Pelayanan gereja dampak yang diakibatkan oleh tanggungjawab dan kesaksian gereja pun demikian. Sebab itu dalam pelayanan pun sikap waspada dan mawas diri harus selalu ada, agar jangan teledor dan lupa diri. Pelayanan gereja selalu melibatkan banyak orang, sebab gereja adalah perseku-tuan orang percaya, milik Kristus. Dalam “kumpulan” orang ba-nyak selalu dibutuhkan pemimpin untuk menata dan mengatur “kumpulan” itu. Demikianlah di dalam gereja, dibutuhkan kepe-mimpinan, tetapi bukan pemimpin yang melayani melainkan pelayan yang memimpin.

Itulah sebabnya GMIM yang adalah bagian dari gereja Tuhan yang ada di dunia bertanggungjawab untuk melaksanakan pemilihan pelayan khusus baik di aras jemaat, wilayah maupun sinode. Tema bacaan kita “memilih dan menerima pilihan dengan iman” hendak menyadarkan dan mengarahkan, tentang pentingnya mereka yang bertanggungjawab untuk memilih yang terpilih. Dan jika yang memilih memiliki tanggungjawab atas siapa yang dipilihnya, terlebih lagi mereka yang terpilih. Sebab pemilihan pemimpin dalam gereja memiliki tujuan pelayanan yang sama sekali berbeda dengan pemimpin dunia. Sebab pelayanan gereja selalu berorientasi pada apa yang diberikan bukan apa yang didapatkan. Pelayanan gereja harus bebas dari campur tangan dan unsur unsur duniawi. Sehingga tidak ada susupan dan sisipan agenda agenda tertentu, seperti agenda politik. Pemilihan gereja harus dijauhkan dari isu-isu primor-dialistis, keunggulan jabatan, pendidikan dan harta. Karena sifat utama pelayan gereja adalah kehambaan yang dapat diteladani, sehingga mampu memberi dampak yang memberkati dan membawa semakin banyak orang datang kepada Yesus. Karena itu pemilihan “pelayan pemimpin” dalam gereja, harus senan-tiasa bertolak pada apa yang dikatakan Yesus “sebab itu adalah lebih baik memberi daripada menerima”.

PEMBAHASAN TEMATISPEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese) 

Kisah Para Rasul 6: 1-7  menceritakan tentang jumlah orang percaya yang semakin bertambah di Yerusalem. Jemaat mula mula setelah peristiwa kenaikan Yesus dan hari Pentakosta “pencurahan Roh Kudus” terpusat di Yerusalem. Keadaan ini terjadi karena para Rasul memang harus memulai pelayanannya dari Yerusalem, tetapi adanya pemahaman bahwa Yesus akan “segera kembali” membuat orang orang percaya berkumpul dan bertahan di Yerusalem. Selain itu cara hidup jemaat mula-mula yang membagi segala milik mereka menjadi “kepunyaan” bersama, telah mendorong banyak orang datang untuk bersama mereka, terutama mereka yang berkekurangan. Para Rasul yang melayani pemberitaan firman Tuhan sambil melakukan banyak tanda dan mujizat, telah menarik banyak orang datang kepada Yesus. Baik yang berada di Yerusalem maupun yang berasal dari luar Yerusalem. Baik orang Yahudi berbahasa Ibrani, juga orang Yahudi berbahasa Yunani. Akibatnya jumlah orang percaya yang makin bertambah itu dan terkonsentrasi di Yerusalem, telah membawa masalah yang baru. Pelayanan “Diakonia” yang dilakukan gereja bagi para janda menuntut perhatian lebih. Sebab ada janda-janda yang tidak terlayani lagi, yaitu para janda orang Yahudi berbahasa Yunani. Pengabaian ini menimbulkan sungut-sungut, perselisihan dan pertentangan diantara para murid. Sebab muncul kesan ada yang diprio-ritaskan dan ada yang diabaikan. Seolah-olah ada ketidakadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh para Rasul. (ayat 1).  Dengan bijaksana para Rasul mengumpulkan semua murid dan berbicara dengan terus terang tentang apa yang terjadi. Bahwa murid yang semakin bertambah banyak jumlahnya dan para janda yang membutuhkan pelayanan diakonia telah menyebabkan para Rasul mengabaikan pelayan firman. (Ayat 2). Ada kejujuran dan keterbukaan dari para Rasul dihadapan semua murid. Yang tak terlayani bukan karena ada prioritas melainkan karena jumlah murid dan jumlah para Rasul yang tidak lagi seimbang dalam pelayanan itu. Jika para murid orang Yahudi yang berbahasa Yunani merasa diabaikan, boleh jadi karena memang para Rasul lebih mengenal  janda janda Yahudi berbahasa Ibrani sebab mungkin mereka berasal dari daerah-daerah yang sama atau terkendala dengan keterbatasan bahasa mengakibatkan komunikasi yang tidak baik antara para Rasul yang berbahasa Ibrani dan orang orang Yahudi berbahasa Yunani. Itulah sebabnya dengan jujur para Rasul mendorong supaya jemaat memilih orang lain diantara para murid yang terkenal baik serta penuh roh dan hikmat.(ayat 3) Para Rasul melalui tindakan ini memperlihatkan bahwa mereka bukanlah pusat pelayanan melainkan Yesus. Setiap orang yang layak dihadapan Tuhan dan manusia – “terkenal baik dan penuh roh serta hikmat” – dapat bersama-sama dalam tanggung jawab pelayan itu. Para Rasul bukan pemilik pelayanan melainkan Yesus. Dan pendelegasian tanggung jawab dalam pelayanan harus dilakukan. Supaya mereka dapat fokus pada tang-gungjawab yang lain yaitu doa dan pemberitaan firman Tuhan (ayat 4). Pendelegasian ini menempatkan orang yang tepat pada tanggungjawab yang tepat. Dengan demikian para Rasul menunjukkan bahwa tidak ada orang yang sanggup melakukan segala hal sebaliknya bersama sama segala hal dapat dilakukan.

Dapat dipastikan dari nama nama para pelayan meja yang terpilih, jelas mereka datang dari kelompok orang orang kristen Yahudi berbahasa Yunani. Pilihan ini tepat. Pertama, untuk membuktikan bahwa para janda yang tak terlayani bukan karena ada prioritas dan pembedaan melainkan karena ketidakkenalan para Rasul terhadap janda-janda berbahasa Yunani itu. Sehingga dengan memilih mereka yang datang dari kelompok itu, diharapkan tidak ada lagi para janda Yahudi berbahasa Yunani yang tak terlayani karena mereka dikenal oleh para “pelayan meja” yang terpilih. Kedua, pilihan ini men-jembatani dan menyelesaikan persoalan bahasa antara mereka yang berbahasa Yunani dan Ibrani. Ketiga, pilihan ini mem-buktikan bahwa mereka saling percaya dan mengasihi. Tidak ada kekuatiran dan kecurigaan dari orang orang Yahudi berbahasa Ibrani bahwa para “pelayan meja” yang terpilih akan mengabaikan mereka sebagai reaksi “balas dendam” (ay 5).

Doa dan peletakkan tangan oleh para Rasul (ay 6), bukanlah bentuk intimidasi atau legitimasi kuasa atas mereka yang terpilih, tetapi sebagai motivasi dan dukungan terhadap pelayanan yang akan dilaksanakan para “pelayan meja”. Dengan demikian Rasul-Rasul memperlihatkan kepada jemaat, keakraban hu-bungan dan topangan mereka bagi para “pelayan meja” yang terpilih. Tindakan ini penting untuk menjadi contoh, supaya sama seperti orang orang percaya yang mengakui dan menghargai kepemimpinan para Rasul dengan membawa mereka yang terpilih di hadapan para Rasul, diharapkan bahwa mereka akan mengakui dan menghargai para “pelayan meja” yang terpilih serta menopang pelayanan mereka, sama seperti para Rasul menghargai dan menopang  mereka, melalui doa dan peletakan tangan. Dengan demikian baik para Rasul maupun “pelayan-pelayan  meja” yang terpilih, menyaksikan bagi jemaat bahwa mereka adalah kawan sekerja yang sama dihadapan Tuhan namun memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Masing-masing telah melaksanakan bagiannya dengan benar dan bertanggungjawab. Itulah sebabnya firman Tuhan makin tersebar dan jumlah murid semakin bertambah banyak, termasuk para imam.(ayat 7).  Kualitas iman dari jemaat yang memilih dan mereka yang dipilih mengakibatkan Firman Tuhan makin luas tersebar. Firman ini menyentuh dan mengubah kehidupan dari mereka yang menerimanya. Dan jumlah muridpun semakin bertambah banyak. Jelas bahwa bertam-bahnya jumlah murid bukan karena kehebatan para Rasul atau “pelayan meja” yang terpilih. Melainkan karena Firman Tuhan yang makin tersebar. Kuasa firmanlah yang mendorong orang-orang datang kepada Yesus. Dan firman ini bukanlah firman yang terbatas pada perkataan, melainkan firman yang tersebar melalui teladan perkataan dan perbuatan para Rasul, “pelayan meja” dan seluruh murid Kristus, orang percaya, jemaat mula-mula.

Makna Dan Implikasi Firman

  1. Sama seperti ungkapan “di tiap-tiap celaka ada hikmatnya”, demikianlah, keberhasilan dalam pelayanan dapat mencip-takan hambatan, tantangan, peluang dan kesempatan yang baru. Respon kitalah yang menentukan hal itu, apakah menjadi berkat atau kutuk dalam kehidupan dan pelayanan. Masalah yang dialami oleh jemaat mula-mula telah membuka jalan pada perhatian terhadap pentingnya orang-orang khusus untuk melayani kebutuhan “jasmani” jemaat. Respon para Rasul memberi peluang dan kesempatan untuk meli-batkan lebih banyak orang dalam tanggungjawab jabatan dan pelayanan.
  2. Keterbukaan dan kejujuran menjadi faktor penting, terhadap keberhasilan dalam pelayanan. Para Rasul tidak malu, apalagi gengsi untuk berterus terang dihadapan jemaat tentang kesulitan yang mereka alami. Tindakan ini perlu diapresiasi dan diteladani. Dalam keterbukaan dan kejujuran, para Rasul telah membuka peluang yang baru bagi kemajuan pelayanan.
  3. Meskipun Alkitab sarat dengan cerita tentang “raksasa-raksasa iman” namun pelayanan tidak membutuhkan orang-orang hebat. Yesuslah pemilik pelayanan itu dan “kehebatan” dalam pelayanan terjadi sebagai dampak dari relasi yang akrab antara Yesus dan orang-orang itu.
  4. Kepada masing-masing orang Tuhan mengaruniakan ber-bagai karunia dan talenta yang berbeda beda. Ungkapan “one man show” tidak berlaku dalam pelayanan gereja. Pelayanan harus melibatkan banyak orang. Karena gereja adalah tubuh Kristus, dimana masing-masing anggotanya memiliki bagian-bagian yang berbeda, namun saling membutuhkan dan tergantung antara satu dengan yang lain.
  5. Rasul Petrus mengatakan “kasih menutupi banyak sekali dosa”. Rasa kasih ini telah membuka gerbang pelayanan yang selebar-lebarnya untuk melibatkan banyak orang dalam pelayanan. Tanpa rasa curiga, persekutuan jemaat bergan-dengan tangan  saling mengasihi dan melayani. Demikianlah yang seharusnya terjadi atas persekutuan orang-orang percaya. Gereja di segala masa, ruang dan waktu.
  6. Pelayanan selalu membutuhkan dukungan. Dukungan itu harus datang dari tiga arah. Pertama, tentu dari Tuhan pemilik pelayanan. Dukungan itu datang dalam berbagai cara, pengalaman, karunia dan talenta yang berbeda beda. Kedua, dukungan itu datang dari “kawan sekerja” mereka yang sama-sama memberi diri dalam tanggungjawab pelayanan meskipun berbeda tugas dan fungsi. Ketiga, dukungan  itu harus datang dari mereka yang dilayani. Perhatikan, bukan mereka yang “memilih” tetapi mereka yang dilayani. Sebab ada kesan kita cenderung ingin menye-nangkan mereka yang “memilih” bukan yang harus dilayani. Jemaat, meskipun memilih namun mereka tidak diperhatikan karena “sudah memilih” tetapi diperhatikan karena merekalah yang ” butuh dilayani”
  7. Firman Tuhan dalam berbagai bentuk inovasi dan kreasi pelayanan, haruslah tetap menjadi dasar. Sebab tidak ada kuasa yang dapat merubah manusia selain kuasa firman Tuhan. Sebab itu gereja tidak pernah menekankan diri pada kelebihan dan kehebatan pribadi melainkan hanya pada kuasa kebenaran firman Tuhan yang sanggup melakukan segala perkara.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Menurut Saudara manakah lebih penting, pelayanan firman atau “pelayanan meja” ?
  2. Siapakah yang harus memiliki iman? Yang akan memilih atau yang terpilih? Jelaskan.
  3. Sebutkan dampak dampak positif dan negatif yang ada dalam pelayanan dan bagaimana cara mengatasinya?

NAS PEMBIMBING: Keluaran 18:19-21 

POKOK-POKOK DOA:

  • Berdoa untuk agenda pemilihan pelayan khusus di aras Jemaat, Wilayah dan Sinode.
  • Berdoa supaya setiap orang yang memilih dan dipilih dituntun oleh kuasa Roh Kudus, supaya hasilnya sesuai dengan kehendak Tuhan.
  • Berdoa agar pemberitaan kuasa firman Tuhan dapat terjadi di seluruh dunia, khususnya di negara-negara minoritas Kristen. Terutama Pekabaran Injil di Indonesia. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Panggilan Beribadah: NKB No. 73 : Kasih Tuhanku Lembut.

Ses Nas Pemb :

Pengakuan Dosa: NNBT. No. 24 Kuasa-Mu Tuhan.

Pemberitan Anugerah Allah: NKB No. 38 : Tlah Lewat Malam Yang Gelap.

Pengakuan Iman: NKB No. 72 Nama Yesus Berkumandang

Hukum Tuhan: NKB 14 : Jadilah Tuhan Kehendak-Mu.

Persembahan : NKB No. 133 Syukur Pada-Mu Ya Allah

Nyanyian Penutup: KJ No. 413 : Tuhan Pimpin Anak-Mu.

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

SHARE
Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ? Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here