TEMA BULANAN : “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir
TEMA MINGGUAN : Hati yang Tergerak oleh Belas Kasihan”
 BACAAN ALKITAB: Lukas 15:11-32
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Kasih begitu gampang diucapkan atau diuraikan dengan  kata-kata indah dan puitis, namun begitu sulit untuk dipraktekkan. Kasih sebagai landasan moral kekristenan,  sering tidak nampak  dalam kehidupan warga gereja karena masih ada dendam, iri hati, dan ekspresi ujaran-ujaran kebencian yang dipraktekkan oleh anggota jemaat termasuk dikalangan Pelayan Khusus. Apalagi dalam kehidupan masyarakat.

Di zaman Perjanjian Baru, orang Farisi dan ahli Taurat  begitu vokal dan selalu mengucapkan tentang moral yang berdasarkan kasih, akan tetapi hati, pikiran dan perilaku  mereka  sangat berbeda. Tuhan Yesus mengajarkan dalam perumpamaan ini, bahwa inti dari kasih yang sejati, sebagaimana Ia praktekkan dalam penderitaan dan kematian-Nya di Golgota. Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah pada satu pihak menceritakan perbedaan pandangan hidup dan pada pihak lain menceritakan tentang kasih bapa kepada anak-anaknya. Kasih itulah yang menyatukan perbedaan pandangan hidup dan pengaruhnya adalah pada terciptanya suasana keke-luargaan yang harmonis. Karena itu tema minggu ini adalah “Hati yang Tergerak oleh Belas Kasihan”

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Injil Lukas ditujukan kepada orang-orang kristen non Yahudi dengan maksud mengajarkan bahwa Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan semua orang termasuk mereka yang terpinggirkan, dianggap rendah, yang miskin, yang disisihkan, lemah dan tak berdaya.

Perumpamaan tentang anak yang hilang harus dipahami  dalam konteks pasal 15 secara keseluruhan dan utuh. Kisah ini berawal dari sungut-sungut orang Farisi dan ahli Taurat yang mempermasalahkan gaya pelayanan dan pergaulan Tuhan Yesus yang bertentangan dengan tradisi Yahudi bahwa orang suci tidak boleh bergaul apalagi makan bersama dengan orang berdosa, seperti: pemungut cukai, perempuan sundal  dan lainnya.

Tuhan Yesus merespons reaksi dari mereka itu dengan menceritakan tiga buah perumpamaan: domba yang hilang,  dirham yang hilang,  anak yang hilang ditemukan kembali. Sukacita yang besar daripada Bapa di sorga jika yang hilang ditemukan kembali.

Dalam tradisi masyarakat Yahudi anak-anak laki-laki berhak menerima warisan dari orang tua namun sesuatu yang tidak pantas bagi seorang anak meminta bagian warisan pada orang tuanya sebelum waktunya. Anak bungsu ini menggunakan bahasa dan istilah yang tidak pantas, yaitu dengan tanpa perasaan ia berkata; “berikanlah sekarang juga bagian yang menjadi hakku dan biarkan aku pergi dari sini”. (ayat.12)

Penulis Lukas mendeskripsi sikap si bungsu: meminta hak mendahului kakaknya sebagai bentuk melanggar tradisi kesulungan waktu itu. Meminta hak sebelum waktunya, menjual harta, memboroskan harta, hidup foya-foya, dan hidup dalam  dosa. Sedangkan sikap si sulung: cemburu, marah, kesal  dan kecewa melihat perhatian Bapa kepada si bungsu.

Tapi di antara sifat-sifat dosa ini, Lukas menjelaskan tentang sifat kasih dari Allah dalam tindakan-tindakan Bapa kepada kedua anak-Nya yang dikasihi-Nya. Hati Bapa yang penuh belas kasihan, menerima kembali anak-Nya yang berdosa atau terhilang. Kasih penuh belas kasihan yaitu memaafkan, merangkul, mencium, memberi penghargaan, seperti cincin, jubah dan sepatu, bahkan mengadakan pesta sukacita atas anaknya yang telah kembali.

Yesus menggiring pada sesuatu yang esensial dalam diri manusia, ketika si bungsu menyadari perbuatannya pada saat ia tiba pada jati dirinya sendiri. Tuhan Yesus mengantar para pendengar supaya mengerti bahwa selama manusia berada jauh dari Allah Bapa maka mereka itu belumlah menjadi dirinya sendiri, ia baru menjadi dirinya sendiri kalau ia sedang berjalan menuju rumah Bapa.

Anak bungsu itu segera mengambil sebuah keputusan yang sulit  yaitu kembali ke rumah bapanya, bukan sebagai anak tetapi sebagai budak. Setibanya di rumah bapanya dan sebelum menyam-paikan maksudnya, bapanya sudah menyambutnya. Bapanya lang-sung memberikan jubah adalah simbol kehormatan, cincin simbol kewenangan; sepatu simbol  anak kandung, serta mengadakan pesta sukacita atas kembalinya anak yang hilang itu. Semua ini dilakukan bapa karena melihat suatu kesadaran akan keberadaanya yang telah merusak hubungan dengan bapa hingga ia telah kehilangan status sebagai anak bapa dan meminta  disamakan dengan orang upahan atau budak.

Bagaimana reaksi dari kakaknya? Sebenarnya kakaknya merasa sayang atas kedatangan adiknya tetapi ia cemburu kepada adiknya karena acara penyambutan yang disertai pesta yang meriah. Di sini ia digambarkan seperti Farisi dan ahli taurat yang lebih senang melihat pendosa itu dibinasakan daripada diselamatkan.

Makna dan Implikasi Firman

Anak yang hilang di sini mengingatkan kita untuk tidak berspekulasi melakukan sesuatu demi memuaskan hasratnya, ia rela merusak hubungan dengan bapanya, setelah mengalami kesulitan ia sadar, insyaf bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dan mau kembali kepada bapa dalam status  bukan sebagai anak tapi sebagai orang upahan. Sedangkan anak sulung adalah reprentasi dari orang Farisi dan Ahli Taurat yang selalu merasa benar dan orang lain salah, dan tidak mempraktekkan kasih karena lebih cenderung menghakimi daripada menyelamatkan.

Bapa di sini menggambarkan Allah yang mengasihi umat-Nya, mereka yang sadar dan bertobat serta mau memperbaiki hubungan yang telah rusak itu dengan bersedia menjadi pelayan. Bagi Tuhan Yesus pengakuan dosa itu penting, karena Allah adalah Maha pengampun, pengasih dan penyayang kepada yang mau berubah yaitu bersedia meninggalkan cara hidup yang lama dan memulai hidup yang baru. Kasih Allah sungguh ajaib, Dia tidak memper-hitungkan dosa umat-Nya.

Perumpamaan ini adalah jawaban Tuhan Yesus yang berisi koreksi kepada orang Farisi dan Ahli Taurat yang mempersoalkan pelayanan Yesus kepada orang berdosa. Allah di dalam Yesus Kristus bersedia menerima kembali bagi mereka yang mau datang kepada-Nya.

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Bagaimana prilaku para tokoh dalam perumpamaan ini?
  2. Bagaimana gereja masa kini mewujudkan kasih yang penuh belas kasihan dalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat?

POKOK-POKOK DOA:

  • Warga gereja harus mendasarkan kehidupan dengan selalau tergerak oleh belas kasihan.
  • Agar keputusan-keputusan gereja senantiasa berdasarkan kasih yang penuh belas kasih.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:

HARI MINGGU BENTUK II

 NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: NKB No. 3 Terpujilah Allah

Doa Penyembahan: NNBT No. 4 Naikkan Doa Pada Allah

Pengakuan Dosa :  NNBT No. 32 Dunia Semakin Berkabut

Janji Anugerah Allah: NKB No. 73 Kasih Tuhanku Lembut

Puji-pujian: NNBT No. 13 Allah Bapa, Ya Yesus Tuhan

Pembacaan  Alkitab: NKB No. 118  Sabda Kudus Menggetar

Pengakuan Iman: KJ.No. 38  T’lah Kutemukan Dasar Kuat

Persembahan: NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan

Penutup : Kasih Pasti Murah Hati

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.