TEMA  : Penginjilan yang Menghasilkan Buah
BACAAN ALKITAB: Ibrani 5:11-6:8

Syalom,  Damai di Hati.

Semua kita pada hari ini layak untuk bersyukur kepada Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja, sebab Ia perkenankan  kita untuk merayakan hari bersejarah dalam pelayanan GMIM. 188 tahun kita menikmati Injil ditabur, bertumbuh dan berbuah di tanah Minahasa dan kini kita telah sementara menuai hasilnya, sehingga tidaklah mungkin kita melupakan peran Roh Kudus yang mendatangkan para Misionaris di tanah Minahasa. Ada ungkapan bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya dan tidak melupakan pahlawannya. Demikian juga Gereja yang besar adalah Gereja yang tidak melupakan sejarahnya serta para Penginjilnya.

Surat kepada orang Ibrani, sesungguhnya adalah cara yang dipakai penulis untuk mengingatkan peran jemaat setelah menerima Injil. Penulis mengingatkan jemaat supaya dapat berjalan terus menuju kepada kematangan dan kesempurnaan (6:1) supaya mereka tidak gagal untuk bertumbuh dan berkembang serta menghasilkan buah. Supaya mereka memiliki pengertian dan pembedaan rohani, sebab dari sudut waktu mereka seharusnya sudah menjadi pengajar, dan tidak menjadi lemah dan mundur didalam memberlakukan Firman Allah. Juga mereka tidak dipertentangkan dengan kedua pola anak kecil dan orang dewasa, susu dan makanan keras. Ini adalah simbol, bahwa mereka harusnya sudah berkembang, bertumbuh dan berbuah menjadi kesaksian orang percaya (5:11-14). Memang mereka diperhadapkan dengan kekecewaan dari agama Yahudi yang tidak melihat agama Kristen mendatangkan kerajaan duniawi tetapi terus melibatkan kehinaan Kristus yang begitu memilukan, menderita disalibkan, dan orang Kristen terus mendapatkan perlawanan dari anti Kristen. Inilah yang kemudiaan membuat mereka ingin kembali memeluk agama Yahudi.

Hal yang paling penting bukan lagi soal pengajaran-pengajaran yang bersifat Yahudi  (6:1-2),  tetapi yang utama diharapkan dari pengajaran yang ditabur untuk menghasilkan buahnya yaitu  perubahan hidup yang tidak sia-sia. Ini adalah sikap hidup yang berkenan dihadapan Allah sebagai tanda Roh Kudus menerangi hati, karunia sorgawi mempengaruhi hidup (6:3-6). Jadi sekali lagi pengajaran yang terutama  adalah buahnya, seperti petani yang bersuka karena tanamannya berbuah dan berguna (6:7-8)

Harus kita akui, bahwa GMIM sekarang ini sedang menuai buah hasil Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen yang ditabur, ditanam, diusahakan tanpa kenal lelah oleh para Pekabar Injil yang berani meninggalkan “zona nyaman” di negaranya. Mereka tidak hanya telah meninggalkan negaranya dengan segala kemakmuran dan kemewahannya datang di tanah Minahasa, tetapi sampai mati.  Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) sebagai lembaga Misi dari Belanda pada tahun 1829 mengirim dua  orang  tenaga Misi datang di tanah Minahasa, Johann F. Riedel dan Johann Gottlib Schwarz, tiba di Manado 12 Juni 1831.

Di hari ulang tahun ke-188 Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di tahun 2019 ini, penting bagi kita untuk mengingat para tenaga Misi, seperti:

 

  1. Johann F. Riedel: Pekabaran Injil di Tondano, mendirikan sekolah di Katinggolan. Meninggal di Tondano 12 Oktober 1860.
  2. Johann Gottlib Schwarz: Pekabaran Injil di Kema dan menetap di Langowan, meninngal 1 Februari 1859 di Langowan.
  3. Hellendoorn, dikenal sebagai peletak dasar Misi di Minahasa dan perintis pendidikan Kristen. Meninggal 1839 di Manado.
  4. Nikolaas Philip Wilken: Pekabaran Injil dan Pendidikan di Tomohon. Meninggal 22 Februari 1877 dan dikubur di Talete.
  5. Karl Traggott Hermann. 1 Januari 1837 memulai Pekabaran Injil di Amurang (Minsel) dan meninggal di Amurang.
  6. Van der Cappelen. Pekabaran Injil di Amurang dan Tareran 1851. Tahun 1856 pingsan di tengah jemaat dan meninggal, dikubur di Rumoong Atas.
  7. Ulfres 1849 di Ranoyapo dan Kumelembuai Motoling. Meninggal dan dikubur di Kumelembui.

 

Banyak lagi yang dapat kita temukan dalam sejarah pelayanan GMIM. Buah dari pelayanan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen yang telah membawa GMIM memprogram  yang dikenal dengan Pekabaran Injil ke dalam dan  keluar. Itulah sebabnya hingga sekarang kita terus mengirim Tenaga Utusan Gereja (TUG) ke beberapa sinode/gereja-gereja di Indonesia dan luar negeri. Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen terus mengingatkan kita untuk berkerja menghasilkan buah-buah di segala bidang, guna hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Amin.