TEMA BULANAN : “Memperkokoh Sinergisme Demi Keutuhan dan Kesinambungan Pelayanan”
TEMA MINGGUAN : “Kasih Mengutuhkan Pelayanan”
Bacaan Alkitab : 1 Korintus 13:1-13
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Sekarang ini dunia semakin sekuler, semakin tak beradab dan tak bermoral, praktek kasih mengasihi antar sesama terkikis oleh kebejatan dan kehilangan akal sehat. Orang mengedepankan kepentingan pribadi daripada komunitas. Kepentingan komunitas melahirkan paham radikalis dan intoleran. Orang seenaknya mengitimidasi kaum minoritas dengan asumsi dasar agama dan ras. Kasih yang toleran pudar oleh kebenciandan kesombongan superioritas yang sektarian. Dampaknya sampai pada kehidupan bermasyarakat, dengan adanya berbagai tindakan criminal seba-gai bentuk kegagalan mempraktekkan kasih dalam keluarga. Keteraturan dan keutuhan Pelayananpun tidak luput dari paham kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Pelayanan teritorial sering tidak lancer karena pengaturan sesuka hati, ukuran pelayanan selalu uang, problem keuangan sering menghambat pelayanan, sering sesama pelayan saling memusuhi, dan jemaat akhirnya diabaikan. Ingat! Triwulan kedua dalam periode pela-yanan ini baru dimulai.Itulah sebabnya minggu ini kita dituntun dengan tema: Kasih Mengutuhkan Pelayanan, karena kasih adalah karunia Tuhan bagi manusia supaya tercipta damai, harmoni, toleransi dan keutuhan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Korintus masyarakatnya dinamis, pluralis dan metropolis, karena perjumpaan berbagai bangsa melalui unsur budaya, adat dan kebiasaan. Perdagangan dan transaksi keuangan, barang, jasa dan orang juga terjadi. Korintus, kota pelabuhan yang kompleks dengan berbagai paham dapat mengancam keutuhan jemaat. Dalam persekutuan jemaat Korintus, ada orang memiliki karunia yang luar biasa dan melampaui segala sesuatu. Karunia apapun itu tidak akan berarti tanpa kasih (Yun: Agape: Kasih yang tanpa jasa, kasih yang memberi). Kata Agape menunjuk pada keutuhan dan kesempurnaan (lihat Kolose 3:14, Roma 12:9, 13:13:10). Ternyata, kesombongan, keangkuhan diri karena memiliki karunia, tidak berguna, tidak berfaedah, apabila kasih itu tidak diwujudnyatakan. Ayat 1-3.

Setiap orang pasti memiliki sifat-sifat kasih yang harus menjadi model/pola jemaat dalam beraktifitas, agar eksistensi mereka di tengah dinamika yang kompleks dapat menunjukkan integritas dan spiritualitas yang kredibel. Kasih itu sabar (bhs. Yun: Makrothumein). Maksudnya, sabar menghadapi segala bentuk fitnahan, hinaan, makian, dan tidak cepat marah. Kasih itu murah hati (bhs Yun: Khrestenentai) Artinya kita harus menunjukkan kemurahan hati kepada siapa saja, tanpa memandang ras, agama dan suku. Tidak boleh cemburu (bhs Yun: Seloi)  terhadap harta, milik dan kemampuan orang lain. Sifat kecemburuan harus disingkirkan dalam persekutuan jemaat termasuk memegahkan diri (bhs. Yun: Perperenetai) tinggi hati dan menganggap superioritas dari yang lain apalagi sombong (bhs Yun: Fusioontai) sebab dalam kehidupan berjemaat kesombongan itu yang merusak relasi dan keutuhan persekutuan itu sendiri. Kasih itu sopan (bhs Yun: Askhemonei) seseorang tidak melakukan yang tidak sopan, santun dalam berujar, berpikir maupun bertindak. Apabila orang mempunyai kasih, ia tidak akan mencari keun-tungan diri sendiri (bhs Yun: Setei ra eantes) artinya tidak akan menipu orang lain, dan tidak cari keuntungan dari sesama dalam persekutuan. Seseorang yang memiliki nilai kasih, tidak pemarah (bhs Yun: Parasunetai) melainkan peramah dan pemberi maaf, itu bukti suatu sikap yang  terpuji. Juga tidak menyimpan kesalahan orang lain (bhs Yun: logisetai) artinya kesalahan seseorang tidak diingat lagi, melainkan diampuni. Paulus mengingatkan, kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan (bhs Yun: Adikia) tetapi ia bersukacita untuk sebuah keadilan atau kebenaran (bhs Yun: Aletheia). Sebuah kedahsyatan  kasih dari segi yang lain ialah menutupi segala sesuatu (bhs Yun: Panta Stegei) bukan menutupi suatu kejahatan, positifnya tidak mengumbar kesalahan orang lain di depan publik, melainkan memberi ruang untuk pengampunan. Kasih juga percaya segala sesuatu (bhs Yun: Panta Pistenei) artinya, percaya segala sesuatu yang baik sebagai anugerah Tuhan. Percaya terhadap seseorang yang  berbuat baik terhadap sesamanya. Karena itu kasih sangat mengharapkan segala sesuatu (bhs Yun: Panta Elpisei) yang baik dan positif, supaya perse-kutuan jemaat mengalami perkembangan dan kemajuan serta keutuhan. Tidak kalah fantastis, kasih itu juga sabar menanggung segala sesuatu (bhs Yun: Panta Hupomenei) artinya jemaat harus mampu menahan segala penderitaan yang terjadi sebagai kon-sekuensi persekutuan. Advis kasih Paulus pasti untuk mengutuh-kan pelayanan, dimana kasih harus menyingkirkan paham individualisme, sektarianisme dan radikalisme. Ayat 4-7 Siapapun harus mengakui karakteristik kasih yang super hebat karena tidak ada yang dapat menandinginya yaitu kasih tidak berkesudahan (bhs Yun: Oudepote Piptei), sebab nubuat akan berakhir (bhs Yun: Profetheiai katargenesontai), Bahasa Roh akan berhenti (bhs Yun: Gloossai Pansontai), Pengetahuan akan lenyap (bhs Yun: Gnosis Katargetesetai). Karena pengetahuan tidak lengkap, nubuat tidak sempurna, suatu saat yang sempurna akan tiba, kita akan melihat dalam cermin kehidupan, sesuatu yang nyata. Itulah sebabnya Paulus nyatakan ketika masa kanak-kanak, berpikir, berkata-kata, bertindak seperti kanak-kanak, setelah dewasa harus tinggalkan sifat kanak-kanak itu. Ayat 8-12.

Substansi yang harus dimiliki oleh orang yang percaya adalah Iman Harap dan Kasih. Ketiga hal ini yang memperkuat hubungan pribadi dengan Tuhan. Tetapi kasih bukan sekedar dominansi, tetapi paling terbesar, terkaya, terhebat, tertinggi dan termulia. Suatu kepastian, apabila kasih itu nampak maka keutuhan pelayanan akan tercipta. Ay 13.

Makna dan Implikasi Firman

  • Ada fenomena krusial sekarang ini, keutuhan pelayanan diserang penyakit AIDS (Angkuh Iri Dengki Sombong). Paulus telah melihat hal itu di Korintus, karena itu ia ingatkan. Jemaat yang digerogoti dengan penyakit AIDS, harus diobati. Tindakan preventif perlu bagi yang belum terkontaminasi, sementara yang kronis dan kritis harus disembuhkan dengan pil kasih yang ampuh dengan takaran komposisi obat, dalam Galatia 5:22,23 dan pola anjuran dalam 2 Petrus 1:5-9. Langkah antisipasi terhadap problem ini; pribadi, keluarga, jemaat dan masyarakat, butuh edukasi firman, imunisasi iman, agar esensi kasih itu di daratkan secara efektif dan kontinyu. Saran setiap orang harus menunjukkan kematangan emosional, tidak cepat marah, tidak temperamental, harus sabar. Menunjukkan kebaikan hati/kemurahan, dan tidak cemburu pada kemampuan/kelebihan orang lain adalah gaya hidup kristen. Arogansi dan memegahkan diri, jangan terjadi dalam aktifitas berjemaat, tetapi hidup harus santun dan tahu etiket. Kalau ada kesalahan yang terjadi dalam pelayanan berupayalah diperbaiki demi keutuhan.
  • Kita hidup bersama dan bersama kita hidup, punya hubungan dengan motto: torang samua basudara, torang samua ciptaan Tuhan, torang sama-sama Pelsus, jangan baku simpang hati, jangan tunjung pande, si tou timou tumou tou. Semua ini mengandung makna kasih yang dalam. Mari lakukan pemahaman yang benar dari motivasi ini, seperti lima belas sifat kasih, supaya hidup ini berarti bagi  Tuhan dan sesama. Itulah sebabnya substansi kasih menurut Paulus tidak dapat dibatasi dan tidak terbatas (lihat. Ratapan 3:22,23), Kekekalan kasih menuntut kita untuk bercermin, benah diri, koreksi, introspeksi dan tinggalkan sifat kanak-kanak (jangan maraju, jangan baku marah, jangan baku jual sesama Pelsus) karena keutuhan yang diharapkan bukan keruntuhan. Pelsus yang sudah tidak terpilih harus menjadi penyejuk demi keutuhan bukan sebaliknya. Bentuk keutuhan Pelsus adalah melayani dengan kasih dan bersama-sama menangkal paham-paham radikalisme, fundamentalisme, bentuk-bentuk perselisihan, sifat memfitnah (hoax), supaya jemaat melihat kekompakan (soliditas) itu ada karena kasih yang tulus ihklas. Hanya kasih yang dapat mengutuhkan, mempersatukan dan menyem-purnakan pelayanan.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa yang kita pahami dari perikop ini tentang kasih yang sebenarnya?
  2. Bagaimana seharusnya warga gereja menerapkan kasih dalam aktifitas hidup?
  3. Apa langkah konkrit yang harus dilakukan oleh gereja dalam menjaga keutuhan pelayanan?

NAS PEMBIMBING: Kolose 3:12-14 

POKOK-POKOK DOA

  • Untuk kasih agar tetap ada didalam kehidupan keluarga, supaya semua saling mengasihi.
  • Untuk Pelayan Khusus agar konsisten dengan pelayanan.
  • Untuk kelompok-kelompok bermusuhan, agar mereka sadar dan hidup dalam kasih.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK III 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN :

Nyanyian Masuk : Kasih dari Sorga

Ses Nas Pembimbing: NKB.No. 73 Kasih Tuhanku Lembut

Ses Pengakuan Dosa : NKB No. 17 Agunglah Kasih Allahku

Ses Pemberitaan Anugerah Allah : KJ No. 178  Kar’na Kasih-Nya Padaku

Ses Pembacaan Alkitab: Bahasa Kasih

Ses Pengakuan Iman: KJ No. 1 Haleluya

Persembahan : NNBT. No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan

Penutup :  KJ No.249  Serikat Persaudaraan 

ATRIBUT

Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dengan salib berwarna kuning.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here