TEMA BULANAN : “Panggilan Gereja untuk Memelihara Hidup Harmoni di Tengah Masyarakat Majemuk”
TEMA MINGGUAN :Kasih Kristus sebagai Dasar Membangun Relasi yang Harmonis
BACAAN ALKITAB: Efesus 5:22-33
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Konflik horizontal dibeberapa dekade terakhir yang menimpa bangsa kita menandakan bahwa Indonesia belum mampu menata secara maksimal kemajemukan bangsanya. Indonesia dengan 257.9 juta penduduk, 17.508 pulau, 300 etnik,  1.340  suku, 6 agama resmi, melahirkan konsekuensi keragaman, yang pada satu pihak adalah kekayaan tetapi pada pihak lain merupakan tantangan dan ancaman. Oleh sebab itu Bhineka Tunggal Ika adalah prinsip ideal untuk membangun kera-gaman masyarakat supaya perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan, apalagi konflik .

Sulitkah manusia mengasihi sesamanya yang berbeda hingga disharmoni lebih menonjol lewat konflik yang bernuansa SARA di Indonesia saat ini? Sebuah pertanyaan yang perlu digumuli dan dikritisi dengan iman dan kearifan, mengingat konflik horizontal kini mulai merambah pada agama yang sama, daerah yang sama, suku yang sama, lembaga yang sama. Miris menyaksikan fakta hidup seperti ini. Karena itu perlu upaya untuk menciptakan nilai-nilai yang dapat merekatkan kemajemukan tersebut agar tidak berpotensi konflik.

Kesadaran seperti ini perlu diawali dari warga gereja. Karena, Keharmonisan dalam skala besar ditentukan dan diawali dari lingkup kecil seperti gereja dan keluarga. Berpedoman pada; Kasih Kristus Sebagai Dasar Membangun Relasi yang Harmonis, warga gereja berkontribusi penuh dalam, mencip-takan masyarakat yang rukun, damai dan harmonis. Kasih Kristus yang mengatasi segala perbedaan dan permusuhan harus menjadi realitas konkrit dalam hidup warga gereja. Gereja harus menjadi tempat pertama Kasih Kristus digenapi, supaya (gereja) menjadi kesaksian terdepan dalam mem-bangun relasi yang harmonis.

 

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Ayat 22-24, Paulus memulai bagian ini dengan nasehat yang ditujukan kepada isteri untuk tunduk kepada suami. Tunduk kepada suami dipandang sebagai keharusan dari seorang isteri. Penundukan diri (Yun=hupotage) memang banyak kesejajarannya dalam Perjanjian Baru, misalnya hamba tunduk kepada tuan (Titus 2:9; I Petrus 2:18), anak muda tunduk kepada orang tua (I Petrus 5:5, Efesus 6:1, I Timotius 3:4), masyarakat tunduk kepada pemerintah (Roma 13:1-7). Tetapi sikap tunduk tidak didasarkan karena jenjang kekuasaan (hierarki) bahwa pihak yang lemah harus tunduk kepada yang kuat. Pengaruh budaya Paternalistik di mana kaum laki-laki begitu dominan hingga layak dipatuhi sebagai sebuah penghormatan. Paulus memberi dasar teologi bahwa keharusan mutlak untuk tunduk – isteri kepada suami – mengacu pada hubungan jemaat dan Kristus. Sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian layaknya isteri tunduk kepada suami.

Kristus adalah teladan yang mendemonstrasikan hupotage = rasa tunduk yang benar, bukan karena  paksaan; tapi dalam ketaatan yang sungguh, Ia menempuh jalan kerendahan diri dan hati yang teruji dan terbukti. Ketaatan Kristus pada BAPA dipandang Paulus sebagai contoh yang sungguh, seorang isteri tunduk pada suaminya.

Ayat 2530, Sikap tunduk isteri kepada suami akan melahirkan keharusan yang sama bahkan lebih lagi karena suami  harus mengasihi isterinya. Perhatikanlah makna kata mengasihi yang begitu kuat; agapesen dari akar kata agape = kasih, adalah kasih sejati, bersumber dalam diri Kristus sendiri, tanpa menuntut balas, tanpa batas, murni seperti air putih yang dikiaskan oleh Paulus. Isteri yang tunduk kepada suami akan mendapat respon kasih yang murni, karena terlebih dahulu dibersihkan dengan air dan firman.  Di sini Kasih agape yang dihasilkan bukan karena imbalan dari sikap tunduk seorang isteri. Namun terutama menunjuk bahwa relasi suami isteri telah dilembagakan oleh Allah dalam kasih dan kehendak-Nya. Karena itu, Suami sebagai kepala isteri, sebagaimana Kristus adalah Kepala Jemaat, diberi kehor-matan untuk pertama-tama menyatakan kasih agape. Relasi harmonis hanya tercipta jika dalam urusan mengasihi harus ada yang mendahuluinya. Kristus yang pertama-tama mengasihi jemaat-Nya demikian juga suami kepada isterinya. Dalam hal mengasihi, menghormati dan menghargai, hen-daknya seseorang saling mendahului, tidak menunggu perintah. Konteks seperti ini harus bermula dalam ranah kecil seperti relasi suami isteri yang ditunjuk oleh Rasul Paulus.

Hubungan suami isteri yang harmonis akan berindikasi pada keharmonisan keluarga secara menyeluruh. Maka menjadi penting seorang suami/kepala meletakkan pembangunan seisi keluarganya di atas dasar kasih Kristus, hingga keluarga men-jadi lembaga yang sacral demikian kata Luther, dan menjadi lembaga yang sangat dihormati karena Allah telah member-katinya ungkap Calvin. Kemurnian kasih Kristus untuk jemaat, menjadi kekuatan suami mengasihi isterinya, anak-anaknya, bahkan segenap keluarganya, dengan jalan itu juga suami sanggup menjaga hubungannya yang intim dengan isteri, memeliharanya dalam kekudusan hingga jauh dari perbuatan cela. Suami yang menabur kasih, ia pantas manuai berkat. Akhirnya,predikat sebagai “kepala” pun layak disandang karena ia telah menjadi sarana berkat bagi isterinya.

Ayat 31-33, selanjutnya, sikap tunduk dan mengasihi adalah pernyataan yang tidak asing dalam hidup suami isteri. Karena memang suami isteri tidak diikat hanya karena terpenuhinya syarat yuridis (undang-undang perkawinan) tetapi oleh kasih Kristus. Allah yang pertama-tama berinisiatif  menghendaki terbentuknya hubungan ini. Jika seorang laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya, bersatu dengan isteri dan menjadi satu daging, maka itu menunjuk pada kiasan yang dipakai untuk mengokohkan hubungan Kristus dan jemaat-Nya. Rahasia kasih Ilahi tersingkap dalam Kristus yang mengasihi jemaat dan menjadi realitas dalam relasi suami isteri. Kasih Kristus-lah dasarnya hingga relasi suami isteri menjadi harmonis. Demikian juga selanjutnya keharmonisan bisa dikecap, jika relasi suami-isteri terus dipelihara dalam kasih Kristus.

Makna dan Implikasi Firman
  • Allah menginginkan hubungan suami isteri – keluarga – menjadi pertanda Kerajaan Sorga. Keluarga seharusnya menjadi tempat pertama dimana kerajaan-Nya digenapi. Artinya menjadi model dari suatu masyarakat yang hidup di bawah pemerintahan Ilahi yang adil dan sejahtera, masyarakat yang damai dan memperdamaikan. Karena itu nilai-nilai teologi kristen yang ditawarkan jangan menjadi suram dalam dunia. Sekularisasi jangan menggiring manusia menjadi serupa dengan dunia ini. Keluargalah tempat pertama keharmonisan diwujudkan.
  • Memaknai HUT Proklamasi RI ke-73, warga gereja di-tuntut semakin partisipatif dalam rangka mengembangkan relasi harmonis masyarakat Indonesia di tengah kera-gaman dan kemajemukan. Indonesia adalah anugerah Ilahi yang harus dikelola, ditatalayani dan dipertanggung-jawabkan kepada DIA yang adalah pemilik segala bangsa, sehingga masyarakatnya hidup dalam tatanan luhur; berani menolak diskriminasi, menjauhi permusuhan, benci konflik dan perang. Gereja harus yang pertama membuk-tikan kedewasaannya hidup di Indonesia yang merdeka.
  • GMIM yang kini menyandang predikat“gereja global”, mau membuktikan diri bahwa dimensi kesaksian dan pelayanannya tidak hanya dalam skala lokal di tanah Minahasa semata. Pembuktiannya tidak sekedar mengha-dirkan GMIM ada “di mana-mana”, tetapi lewat GMIM, Kristus dimuliakan “di mana-mana”sampai ke ujung bumi, karena itu kesaksian dan pelayanannya juga berimplikasi global. Visi: GMIM yang Misioner dan Inklusif yang pernah diusung pada periode pelayanan 2010-2014, semakin mempertajam wawasan oikumenis, bahwa relasi harmonis itu perlu dibuktikan dalam hubungan dengan gereja-gereja sedunia.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa makna isteri tunduk kepada suami dan suami mengasihi isteri menurut teks Alkitab?
  2. Apakah tindakan konkret gereja dalam rangka membangun relasi harmonis dalam masyarakat?
  3. Sebutkan hal yang menghalangi terciptanya keharmonisan dalam keluarga, khususnya hubungan suami isteri?

NAS PEMBIMBING: Filipi 2:8

 POKOK-POKOK DOA

  • Memaknai HUT kemerdekaan Indonesia yang ke 73
  • Tuhan menolong agar pemerintah dan masyarakat bersinergi membangun masyarakat Indonesia yang harmonis.
  • Gereja semakin dewasa hidup dalam kasih Kristus, hingga menjadi saksi hidup di tengah masyarakat global.

 TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:

HARI MINGGU BENTUK III

 NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Nyanyian Masuk: NNBT No. 1. Pujilah Dia, Pujilah Dia

Ses Nas Pembimbing: NNBT No. 26 Tuhan Yesusku Mutiara Hatiku

Ses Pengakuan Dosa: KJ. No. 35. Tercurah Darah Tuhanku

Ses Berita Anugerah: KJ No. 436. Lawanlah Godaan

Ses  Doa Pemb Alkitab:PKJ No 14 Kusiapkan Hatiku Tuhan

Ses Pembacaan Alkitab: NKB No. Siapa Yang Berpegang

Persembahan: KJ No. 450 Hidup Kita Yang Benar

Penutup: NNBT No 20. Kami Bersyukur Pada-Mu Tuhan

 ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.