TEMA: Peran Perempuan Dalam Membangun Kesejahteraan
BACAAN ALKITAB: 2 Raja-raja 4:1-7

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Shalom bagi kita sekalian.

Hari ini Gereja Masehi Injili di Minahasa sedang memperingati dan merayakan HUT ke-81 Wanita/Kaum Ibu GMIM dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan, baik di aras jemaat, wilayah dan sinodal. Biasanya perayaan-perayaan seperti ini mempunyai tiga dimensi refleksi. Pertama dimensi syukur, yakni kita bersyukur karena Tuhan berkenan memberkati gereja kita hingga kini, lebih khusus Wanita/Kaum Ibu GMIM sehingga dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawab gereja yang bersekutu, bersaksi dan melayani. Kedua, dimensi evaluative, yakni perayaan seperti ini harus menjadi moment untuk mengevaluasi berbagai bentuk program pelayanan yang sudah dan sedang dilakukan. Apakah program-program kita mengakibatkan jumlah anggota jemaat berkurang atau bertambah. Apakah jemaat semakin mencintai Tuhan dan gereja kita, atau lebih tertarik pada ibadah-ibadah persekutuan doa dan gereja-gereja lain dan lebih khusus lagi apakah keluarga-keluarga kita semakin menjadi keluarga yang beribadah dan rajin bekerja mengelolah berbagai potensi manusia dan alam. Ketiga, dimensi tekad dan harapan bahwa kita harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Dalam perayaan HUT ke-81 W/KI GMIM saat ini, kepada kita diperdengarkan bagian Alkitab yang mengajak kita, khususnya Wanita/ Kaum Ibu untuk melihat peran seorang perempuan yang membangun kesejahteraan keluarganya. Beberapa hal yang dapat kita refleksikan dari bagian Alkitab ini adalah :

Pertama, jadilah pribadi yang memohon belas kasih Tuhan. Inilah yang dibuat oleh seorang perempuan janda yang dating menyampaikan pergumulan keluarganya kepada abdi Allah yang bernama Elisa. Ia mengeluh bahwa suaminya sudah meninggal dan ia adalah seorang yang takut akan Tuhan. Kini ia berhadapan dengan penagih hutang yang sudah dating untuk mengambil kedua anaknya untuk menjadi budaknya. Sungguh suatu pergumulan yang sangat besar. Tindakan yang dilakukan oleh perempuan janda ini adalah tindakan iman yang sangat berani. Ia tidak pergi ketempat lain apalagi menjual dirinya untuk menutupi hutangnya. Inilah tindakan iman yang harus kita lakukan, bahwa kalau kita mempunyai pergumulan dalam hidup keluarga, janganlah kita mencari jalan pintas untuk menyelesaikannya. Datanglah kepada Tuhan melalui pelayan-pelayan-Nya, sampaikan pergumulan dan keluh kesah kita, kita yakin pasti ada jalan keluar yang diberikan Tuhan.

Kedua, berdayakan segala potensi diri dan potensi barang serta alam yang dapat dikelola untuk menopang kebutuhan hidup. Perempuan ini berkata kepada Elisa, tentang apa yang dipunyainya di rumah. Itu berarti potensi diri yang perlu diolah adalah keberanian untuk keluar dari masalah, tidak boleh diam apalagi masa bodoh. Lalu komunikasi, jadi tiap pribadi harus membangun komunikasi dengan orang lain. Dengan komunikasi yang baik dan sopan, akan terbentuk jaringan informasi yang dapat member jalan keluar. Dan akhirnya harus dapat melihat apa yang ada di rumah untuk dapat diolah. Perempuan ini mendapat jawaban bahwa, ia harus mengolah apa yang ada padanya, walaupun itu hanya sebuah buli-buli yang berisi minyak. Sesuatu yang awalnya dilihat tidak berharga, ternyata dapat diolah. Jadi kalau ada keberanian untuk keluar dari masalah dengan membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang dapat member jalan keluar, termasuk bagaimana mengelola berbagai sumber daya alam yang ada di sekitar kita, pasti kita dapat mengelola banyak hal yang ada di sekitar kita.

Ketiga, wujudkan apa yang dikehendaki Tuhan melalui kerja nyata. Setelah perempuan janda ini mendengar apa yang diperintahkan Tuhan melalui Elisa, ia kemudian mewujudkannya dalam tindakan nyata. Ia mengambil buli-buli yang berisi minyak dan dibantu kedua anaknya mengisi bejana-bejana kosong yang disiapkan hingga penuh dan akhirnya minyak dari buli-buli itu berhenti mengalir. Dan ketika perempuan ini mengkomunikasikan apa yang terjadi, Elisa menyuruhnya untuk menjualnya sehingga ia dapat membayar hutangnya dan dapat hidup dari lebihnya, ia dan anak-anaknya. Belajar dari tindakan ini, maka tidak salah kalau kita katakana bahwa, berkomunikasi atau juga berdoa kepada Allah, harus ditindak lanjuti dengan kerjan yata. Ini sejiwa dengan berdoa dan bekerja. Kalau ini kita lakukan, maka kita dapat hidup sejahtera bersama dengan keluarga kita.

 

Saudara-saudara yang dikasihiTuhan.

Sebagai bagian dari gereja Tuhan di dunia ini, secara khusus Gereja Masehi Injili di Minahasa, maka sebagai W/KI Gereja selain kita dapat menyatakan syukur, terima kasih dan hormat kita kepada Tuhan untuk segala berkat dan kepemimpinan-Nya bagi kita, mari kita jadikan perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 W/KI GMIM ini sebagai momen untuk bertekad, untuk semakin teguh mengambil bagian dalam upaya-upaya mensejahterakan keluarga. Memang pasti kita mempunyai banyak keterbatasan dan masalah-masalah silih berganti, tapi janganlah hal-hal ini menjadi penghalang langkah kita. Mari kita dating kepada Tuhan. Berkomunikasi denga nhamba-hamba-Nya dengan berbagai talenta mereka. Berani mengambil keputusan untuk bergerak memberdayakan diri dan segala potensi barang dan alam yang ada di rumah dan sekitar kita.

Kita semua yakin bahwa setiap usaha dan kerja yang dilakukan dalam Tuhan akan menuai berkat dan kesejahteraan. Jangan malu untuk menekuni hal-hal yang kecil, apakah berdagang, berkebun atau juga mengusahakan industry rumahtangga. Atau usaha jasa seperti gunting rambut, menjahit dan lain-lain yang positif serta bermanfaat. Dihadapan Tuhan, bukan soal besar atau kecilnya pekerjaan kita, tapi apakah kita percaya dan sungguh-sungguh melakukannya atau tidak. Percayalah pada Tuhan dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh, maka hidup sejahtera dalam keluarga pasti kita nikmati. Selamat menikmati berkat-berkat Tuhan dan selamat merayakan HUT ke-81 W/KI GMIM. Tuhan memberkati kita semua. Terpujilah nama-Nya. Amin.