TEMA BULANAN :“Panggilan Gereja untuk Memelihara Hidup Harmoni di Tengah Masyarakat Majemuk
TEMA MINGGUAN : Komitmen Iman Di Tengah Keberagaman”

BACAAN ALKITAB : Maleakhi 2:10-16

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Gereja di mana jemaatnya adalah anggota masyarakat, hidup dalam suatu tatanan masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia yang majemuk. Masyarakat majemuk ada-lah masyarakat yang tinggal dalam komunitas tertentu dan terdiri dari berbagai macam perbedaan karakteristik kebu-dayaan baik dalam bidang etnis, golongan, agama, suku ras, tingkat sosial. Suatu tatanan masyarakat yang majemuk akan selalu berinteraksi, bersosialisasi, berempati dan bersimpati termasuk dalam ikatan perkawinan dalam hal ini kehidupan berkeluarga.

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan, dengan maksud meres-mikan ikatan perkawinan secara norma agama, dan norma sosial, norma hukum (lihat. UU Perkawinan No 1 Tahun 1974).

Dalam realita, bahwa memilih teman hidup sebagai suami-isteri tidak sedikit orang mempertimbangkan bagaimana kondisi ekonomi, jabatan, kecantikan, ketampanan calon pasangannya sekalipun berbeda iman kepercayaan. Demi-kian, bahwa adanya perkawinan campur, adanya kawin kontrak, adanya pernikahan yang hanya diberkati digereja, adanya pernikahan hanya dicatatan sipil, adanya pernikahan dan pemberkatan nikah di catatan sipil, adanya pernikahan oleh karena “terpaksa”, adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan adanya perceraian, mengantar kita sebagai gereja untuk kembali melihat apa kata firman tentang perkawinan itu sendiri. Bagaimana tanggung-jawab Gereja terhadap realita di atas? Bagaimana kita harus hidup dalam keragaman, di mana di satu sisi dalam kemajemukan masyarakat harus memelihara keharmonian hidup bersama? Padahal dalam tuntutan iman kita harus hidup berdasarkan ketentuan-ketentuan firman. Oleh karena itulah perikop pembahasan minggu ini memilih Tema : “Komitmen Iman di Tengah Keberagaman”

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab ini ditulis sekitar 430-420 SM, menurut nama penulisnya yaitu Maleakhi. Nama Maleakhi berarti “utusanku”, mungkin singkatan dari Malakhiah (=Ibrani) yang artinya “utusan Tuhan”. Nabi Maleakhi (1:1) adalah seorang Yahudi saleh pada masa pasca pembuangan.

Maleakhi menulis ketika orang Yahudi pasca pembuangan di Palestina kembali mengalami kesusahan dan kemunduran rohani. Para imam telah menjadi korup (Maleakhi 1:6-2:9; band. Nehemia 13:1-9). Persembahan persepuluhan dan persembahan lainnya diabaikan (Maleakhi 3:7-12; band. Nehemia 13:10-13).

Beberapa hal yang disoroti Maleakhi dalam perikop pembacaan kita ini adalah:

  • Ayat 10-12: Maleakhi melihat hilangnya nilai kekudusan suatu perjanjian, sehingga perlunya kesetiaan imam dan umat Israel pada perjanjian Allah dengan leluhur mereka. Jika Allah pencipta sebagai Bapa, itu berarti mereka adalah bersaudara. Oleh karena itu menurut Maleakhi seharusnya mereka tidak boleh berkhianat satu dengan yang lain. Berkhianat dalam kehidupan persaudaraan berarti berbuat keji dan menajiskan kekudusan perjanjian Allah dengan leluhur mereka. Orang-orang yang melakukannya berbuat dosa di hadapan Tuhan. Mereka akan di hukum dan dilenyapkan.
  • Ayat 13: Maleakhi melakukan perlawanan terhadap praktek ibadah yang munafik dan tidak bersungguh-sungguh. Pelanggaran ke dua setelah perbuatan keji dalam ayat 11 yang dilakukan oleh imam dan umat Israel adalah kemunafikan dalam memberi persembahan. Di mezbah Tuhan, imam dan umat Israel membawa persembahan dengan mencucurkan air mata, menangis sambil merintih penuh kemunafikan. Atas perbuatan itu Maleakhi menga-takan, bahwa Tuhan akan menghukum mereka dan persembahan mereka tidak berkenan kepada Tuhan.
  • Ayat 14-16: Perlunya memelihara perjanjian pernikahan. Hal ini ditegaskan oleh Maleakhi ketika melihat imam dan umat Israel mulai tidak setia kepada istri masa muda mereka yang adalah orang Ibrani dan kemudian mereka menikahi wanita kafir yang mungkin lebih muda dan lebih cantik. Terhadap masalah ketidaksetiaan dalam pernikahan ini, Maleakhi mengingatkan akan pelanggaran terhadap nilai kekudusan dalam pernikahan di mana Allah sendiri yang telah menjadi saksi. Pernikahan setiap umat bangsa Israel adalah kehendak Allah sendiri, karena Allah yang mempersatukan mereka. Dari pernikahan itu akan lahir anak-anak sebagai keturunan. Oleh karena itu betapa pentingnya suatu kesetiaan dalam pernikahan. Dengan tegas dikatakan, bahwa Allah sangat membenci perceraian. Perceraian adalah penghianatan pernikahan.
Makna dan Implikasi Firman
  • Indonesia di mana gereja ada di dalamnya adalah suatu negara yang masyarakatnya beragam suku, agama, bangsa, bahasa, etnis, kebudayaan. Keragaman masya-rakat Indonesia diikat dengan falsafah “Bhineka Tunggal Ika”. Dalam rangka mengikat tali persaudaran dan membina kerukunan umat beragama di tengah kera-gaman itu, maka gereja harus memberikan peran nyata dengan meningkatkan tugas-tugas penggembalaan dan Pembinaan Warga Gereja.
  • Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak dapat dihindari yang namanya hidup bersama. Kehidupan bersama itu dapat menciptakan sistem pergaulan yang tidak dapat membedakan lagi keyakinan dan agama seseorang, bahkan memungkinkan orang berpindah keyakinan iman. Oleh karena itu sebagai langkah antisipatif, maka gereja harus mengefektifkan Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam keluarga, dalam ibadah-ibadah jemaat, dalam ibadah Kompelka: ASM, Remaja, Pemuda, PKB, WKI, dalam ibadah hari Minggu, ibadah Kolom, PAS, ibadah Lansia. Melalui PAK ini, terjadilah proses pena-naman suatu keyakinan iman yang kokoh kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Dengan demikian akan me-minimalisir anggota jemaat perpindah keyakinan iman.
  • Keluarga adalah lembaga terkecil dalam kehidupan masyarakat. Keharmonisan kehidupan masyarakat yang majemuk sangat tergantung pada keharmonian hidup keluarga. Allah sangat menghendaki jika keluarga itu memelihara perdamaian dan perjanjian pernikahan. Allah sangat membenci pengkhianatan apalagi perceraian. Oleh karena itu hindari pemicu konflik dalam keluarga.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa yang anda pahami dalam perikop ini tentang komitmen iman umat Israel di tengah kehidupan dengan bangsa-bangsa lain. Hal-hal apakah yang mempengaruhi sehingga bangsa Israel tidak berkomitmen terhadap imannya?
  2. Apa pendapat saudara tentang pernikahan berbeda agama. Mengapa orang meninggalkan keyakinan iman? Dan mengapa terjadi perceraian?
  3. Bagaimana upaya Gereja menanamkan iman kepercayaan (militan) hanya kepada Yesus Kristus bagi keluarga, anggota jemaat di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk?

NAS PEMBIMBING : Galatia 2:14b

POKOK-POKOK DOA:

  • Keutuhan NKRI dalam Ke-Bhineka Tunggal Ika-an.
  • Umat beragama hidup rukun, damai dan saling menghormati keyakinan agama masing-masing.
  • Upaya gereja menanamkan iman percaya (militan) hanya kepada Tuhan Yesus bagi keluarga dan anggota jemaat melalui PAK dalam khotbah, katekisasi (baptisan, calon sidi, Pelsus, pra-nikah, dan lain-lain).

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:

HARI MINGGU BENTUK IV

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: NNBT No. 4 Naikkan Doa Pada Allah

Pembukaan: NNBT No. 7 Mari Puji Tuhan Yesus

Pengakuan Dosa: NNBT No. 8 Banyak Orang Suka Diampuni

Berita Pengampunan: KJ No. 429 Masih Banyak Orang Berjalan

Ses Pembacaan Alkitab: KJ No. 49 Firman Allah Jayalah

Persembahan: NKB No. 197 Besarlah Untungku

Penutup: KJ No 424. Yesus Menginginkan Daku

ATRIBUT :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here