TEMA BULANAN : “Allah Pencipta, Penyelamat dan Pemelihara Manusia dan Alam Semesta”
TEMA MINGGUAN : “Kota yang Diberkati”
BACAAN ALKITAB: Yeremia 33:1-9
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Setiap orang tentu mendambakan kehidupan yang baik, terpenuhi kebutuhan dasarnya, seperti sandang, pangan dan papan. Bersamaan dengan itu, menginginkan pula kehidupan yang har-monis dengan sesama dan dengan alam atau lingkungan hidupnya. Itu berarti  meliputi tempat  yang menjaminkan rasa aman, damai dan sejahtera.

Dalam penghayatan kekristenan, tentu dapat disepakati, jika keadaan diberkati  maka Allah Bapa di dalam Yesus Kristus yang senantiasa menjadi sumber  berkat  tersebut. Sebab, tak ada yang mustahil bagi-Nya. Apalagi terhadap umat yang telah dipilih menjadi milik kepunyaan-Nya. Ia yang berkuasa di bumi dan di sorga.

Alkitab yang sarat dengan fakta-fakta historis tentang kasih Allah dinyatakan  berulang-ulang bahwa, Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu. Pernyataan ini perlu digaris-bawahi, agar teguh diya-kini, bahwa kemahakuasaan Allah, cinta kasih kekal-Nya di lintasan waktu yang telah berlalu, tetapi juga kekal untuk selama-lamanya.

Kalau begitu, Allah yang Maha mengetahui keberadaan umat-Nya, tentu mengetahui juga, apa yang menjadi dambaan setiap kita, yang mau teguh menaruh harap pada-Nya. Ketika berbicara tentang kebaikan yang kita dambakan di manapun kehidupan ini kita jalani, maka terang firman Tuhan kiranya menuntun kita. Untuk itu tema minggu ini ialah: Kota yang Diberkati.

Roh Kudus-Nya, menganugerahkan hikmat yang memampu-kan kita untuk menelaah dan refleksikan secara  teologis teks ini, di tengah konteks kota, bangsa dan dunia  yang sering dihiasi jerit dan tangis meratapi diri, karena gagal memahami hidup ini.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Di bagian awal Yeremia pasal 33, tersirat dua hal penting, yaitu Pertama: tentang penyadaran kepada Yeremia, untuk mengingatkan-nya, bahwa Allah itu TUHAN, Pencipta sekaligus yang menegakkan bumi ini. Kedua: tentang penguatan baginya, yang rupanya telah terpuruk dalam ketidak-mengertian, karena realitas yang dialaminya. Tersurat jelas pernyataan yang mengandung penegasan, bahwa ini hal yang penting, sehingga harus disampaikan ulang untuk yang kedua kalinya. Kata yang mengindikasikan, sudah pernah disampai-kan, namun rupanya tak dihiraukan. Ya, sangat boleh jadi karena catatan pasal sebelumnya (pasal 32:2), menyebutkan bahwa, saat itu sedang terjadi pengepungan tentara Babel atas Yerusalem, semen-tara itu Yeremia ditahan di pelataran penjagaan di istana raja Yehuda. Maka hampir dapat dipastikan, sang nabi tengah galau, pesimis dan nyaris berputus asa. Bisa dikatakan demikian, sebab di beberapa pasal sebelumnya, misalnya: pasal 11:18-12:6; 15:10-21; memuat pengakuan-pengakuan, mengenai kemelut yang digumuli-nya. Bagaimana tidak, disatu sisi ia masih berusia muda, ketika dipanggil Tuhan untuk menyerukan pembaruan hidup saudara/kaum sebangsanya. Disisi lain, nafsu ekspansif kerajaan yang satu terhadap kerajaan lainnya di masa itu, tentu rentan menggoyahkan sendi kerohanian umat, bahkan dirinya secara pribadi. Kitab 2 Raja 24:8-17 & 2 Raja 25:1-12 menguak fakta bahwa sampai dua kali Babel mengepung Yerusalem dan nyaris mengangkut habis penduduknya. Itulah sebabnya, Yeremia sampai menyuarakan curahan hati yang begitu pedih kala ia berucap: “terkutuklah hari ketika aku dilahirkan” (20:14). Tetapi, benar anggapan Yeremia bahwa  ketimpangan sosial akibat kemerosotan moral mayoritas penduduk  di negerinya, dan ekspansi kerajaan adidaya (Babel) di masa itu, luput dari pengamatan TUHAN.  Tentu tidak,  sebab melalui pengalaman pahit tersebut, proses pemurnian dan penyadaran atas umat TUHAN sedang berlangsung. Lalu akan  tumbuh tekad baru yang kuat, untuk pasrah mematuhi Tuhan. Benar saja,  bahwa melalui Yeremia Tuhan mengingatkan untuk berseru kepada-Nya, yang membentuk atau mencipta semesta ini (ayat 1-3). Pernyataan yang sesungguhnya hendak menyadarkan Yeremia dan seluruh umat Tuhan  bahwa yang dipikirkan dan didambakan seringkali tidak seperti yang dirancangkan TUHAN.

Musnahnya rumah-rumah dan dirobohkannya gedung-gedung istana serta tembok-tembok yang seharusnya menjadi penangkal pengepungan, hancur karena murka dan kehangatan amarah Tuhan (ayat 4-5). Kemudian di ayat 6-9, Tuhan menyatakan janji-Nya yang akan menyembuhkan, memberi keamanan; dan memulihkan dengan mentahirkan umat-Nya dan menganugerahkan kesejah-teraan.

Seiring berlalunya waktu pemulihan itupun terwujud, bahkan berlaku pula atas pribadi Yeremia. Melalui kitabnya ini terkuak pengakuannya yang galau dan meragukan rancangan TUHAN, karena harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Nampaknya, ia sempat gagal paham karena hanya melihat dari mata insaninya dan akal manusiawinya semata. Namun pada gilirannya Tuhan mencelikkan mata imannya, sekaligus mengubah hatinya untuk mengerti. Maka teguhlah Yeremia pada rancangan TUHAN yang diproklamasikannya sebagai rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan (psl 29:11).

Makna dan Implikasi Firman

Meski kenyataan yang kita jumpai dan alami di hidup ini adalah: tindak kekerasan termasuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan aksi-aksi kriminalitas; gangguan kamtibmas yang dipicu miras, narkoba dan aksi ‘sok jagoan’ segelintir orang; dampak buruk sosial media, yang sering dipergunakan untuk mengeksploitasi perempuan dan anak; dan kerap dipakai untuk menipu dan menyebarkan ujaran-ujaran kebencian; serta ketimpangan sosial lainnya, patut diakui, realitas miris ini masih menghiasi kehidupn di sekitar kita. Tetapi, narasi sang nabi, memberi inspirasi mengenai restorasi ilahi. Inti berita melalui nabi ketika Allah berfirman, akan menegakkan bumi. Hal ini berarti bahwa, kalaupun bumi ini bergoncang, diratapi tangis nurani yang teriris, yang menjadi proses untuk menghayati lagi jati diri insan kristiani. Telah diingatkan  melalui nabi, bahwa janji pemulihan, yakni hidup diberkati di kota-kota/tempat-tempat dimanapun didiami. Sebuah keniscayaan, jika di dalamnya umat Tuhan yang mendiaminya teguh meyakini, rancangan damai sejahtera Tuhan. Tetapi, janji pemulihan itu hendaknya dimaknai dengan komitmen kehambaan, sebagaimana diekspresikan nabi. Jangan lelah menyuarakan dan mempraktekkan hidup yang menjauhi dosa, supaya murka dan amarah Tuhan tidak ditimpakan. Kota yang diberkati oleh Tuhan Allah di dalam Tuhan Yesus juga termasuk orang-orang percaya yang mendiami kota itu. Kota tidak saja dipahami sebagai sebuah teritorial tetapi tempat dimana Allah memulihkan kita

Sukacita dan kegirangan di momentum perayaan “kuncikan”, “tulude” dan pesta iman lainnya di minggu ini, patut diamini sebagai bagian dari perwujudan janji Tuhan. Selayaknya kita meresponya dengan memberi persembahan korban syukur, bahkan persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada-Nya. Maka oleh kasih setia-Nya, hidup kita senantiasa diberkati.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa pesan utama yang mau disampaikan bacaan saat ini berkaitan dengan kota yang diberkati?
  2. Kemukakan beberapa contoh konkrit (menurut pengamatan), kontribusi Gereja dalam upaya-upaya perubahan dan pemberdayaan warga Gereja, agar kota diberkati !

 NAS PEMBIMBING: Yeremia 29:11

 POKOK-POKOK DOA:

  • Dikuatkan Tuhan, komitmen kehambaan umat, untuk menyuarakan dan mempraktekkan kebenaran
  • Dikuatkan disegala profesi, usaha dan kerja yang ditekuni dengan semangat kehambaan pada TUHAN
  • Kehidupan dalam damai dan sejahtera TUHAN, di seantero NKRI dan dunia.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:

HARI MINGGU BENTUK IV

 NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: NKB No 3.Terpujilah Allah

Ses Doa Pembukaan: KJ No.13 Allah Bapa Tuhan

Ses Pengakuan Dosa: NNBT No. 8 Banyak Orang Suka Diampuni

Ses Janji Anugerah Allah: NKB No. 10 Dari Kungkungan Malam Gelap

Ses Pembacaan Alkitab: Bagi Tuhan Tidak Ada Yang Mustahil

Persembahan: KJ No. 393 Tuhan Betapa Banyaknya

Penutup: KJ No. 407 Tuhan Kau Gembala Kami

 ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.