TEMA BULANAN : “Karya Keselamatan Allah Di Bumi Milik Tuhan”
TEMA MINGGUAN : Nasihat Bagi Yang Kuat dan Yang Lemah”
 BACAAN ALKITAB : Yakobus 5:1-11
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Mengamati perkembangan hidup masyarakat dunia di zaman modern ini, baik melalui media cetak maupun media elektronik sangat tergambar jelas bahwa di satu pihak pem-bangunan secara fisik seperti gedung-gedung pencakar langit yang semakin menambah keindahan suatu kota, namun di pihak lain masih menyaksikan banyak pemukiman kumuh di sekitar-nya. Kita juga menyaksikan semakin banyak orang mengendarai mobil mewah dengan harga miliaran rupiah, sementara itu masih cukup banyak orang yang berjualan kecil-kecilan di jalan-jalan, mengamen, bahkan mengemis meminta-minta. Pelaku ekonomi konglomerat tak jarang tergoda menjadi “kapitalis”, sementara masih begitu banyak pelaku ekonomi kecil yang sulit berkembang. Inilah realitas hidup bahwa ada orang yang kaya secara materi, tetapi ada juga orang miskin secara materi. Inilah yang disebut masih ada “kesenjangan hidup” di dunia yang modern yang menjanjikan bahwa masyarakat akan hidup sejahtera, bahagia ternyata masih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan hampir di semua aspek kehidupan seperti kesulitan untuk menyekolahkan anak-anak, kesulitan sandang pangan dan lain sebagainya.

Namun demikian, kita tidak pernah berpasrah apatis dan mengaminkan bahwa ini semua sudah diatur/ ditentukan Tuhan namun kita bersyukur bahwa Pemerintah dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) terus berusaha untuk meningkatkan kesejah-teraan hidup melalui bantuan-bantuan permodalan dengan program pemberdayaan ekonomi rakyat. Demikian juga dari masing-masing agama, termasuk dari pihak gereja terus berupaya mewujudkan “penaggulangan kemiskinan” sesuai sub Tema PGI dan juga sub Tema GMIM. Karena itu, masihlah relevan GMIM mengangkat persoalan ini dengan tema mingguan: Nasihat Bagi yang Kuat dan yang Lemah dalam perenungan di sepanjang minggu berjalan ini.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab  Yakobus ditulis oleh Yakobus saudara  Tuhan Yesus (Markus 6: 3; Kisah Para Rasul 15: 13;  Galatia 1: 19). Jadi bukan Yakobus murid Yesus. Surat ini ditulis diperkirakan antara tahun 50-62 SM dengan alasan antara lain kejatuhan kota Yerusalem tidak diceritakan, keadaan sosial (tuan-tuan tanah) tidak terdapat sebelum Yerusalem jatuh, dan perselisihan antara orang Yahudi dan non Yahudi tidak disebut. Yakobus  sangat prihatin menghadapi sikap acuh tak acuh orang-orang Kristen yang kaya terhadap orang-orang Kristen yang miskin. Kedua kelompok ini pertama kali disebut pada pasal 1:9-11; 2:4; 2:6. Selanjutnya pada pasal 5:1-6, Yakobus memberikan teguran dan peringatan yang keras terhadap orang yang kaya, bahwa Allah akan menghukum mereka kelak. Tentu saja menjadi hal yang menarik untuk kita teliti, mengapa Yakobus berbicara demikian.

Kita perhatikan pada ayat 1, hai kamu orang-orang kaya…Kaya di sini menunjuk pada orang-orang yang mempunyai banyak sekali harta, hidup sangat makmur, dan karena itu mereka mempunyai kedudukan yang tinggi dan sekaligus “berkuasa” dalam masyarakat. Tidak ada yang salah bagi orang yang memiliki banyak harta, tetapi ungkapan-ungkapan Yakobus seperti :”menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu”, tentu memiliki alasan yang teologis.  Ungkapan-ungkapan ini memiliki arti bahwa ada kesedihan yang mendalam yang akan dialami oleh orang-orang jahat yang ketakutan akan datang penghakiman Tuhan. Pada ayat 2-3…Yakobus mengingatkan, bahwa kekayaan sudah menjadi busuk dan pakaianmu telah dimakan ngengat (ayat 2). Emas dan perakmu telah dimakan karat (ayat 3). Di masa itu, kekayaan sering disimbolkan dengan pakaian, emas dan perak yang ternyata semua itu hanya bersifat sementara. Artinya tidak kekal, sewaktu-waktu bisa tidak berarti dan habis.

Dalam ayat 4-6, sebenarnya inilah yang menjadi alasan/penyebab Yakobus memperingatkan orang-orang kaya bahwa mereka berada dalam ancaman penghukuman. Kita tentu mengerti bahwa bukan orang tidak bisa kaya dan berkuasa, tetapi karakter yang buruk melahirkan perilaku yang jahat, tidak benar, dan tidak baik kepada sesama manusia. Kita bisa membayangkan kejahatan yang dilakukan orang-orang kaya di mana Yakobus menulis surat, seperti “upah buruh yang ditahan dari hasil panen di ladang”, sebaliknya “hidup dalam kemewahan dengan berfoya-foya memuaskan hati”. Selanjutnya, dikatakan Yakobus “mereka telah menghukum, bahkan membunuh orang benar”. Upah buruh yang ditahan merupakan tindakan kesewenang-wenangan dari orang kaya yang dapat membuat para buruh kelaparan, ketiadaan makan dan jatuh miskin. Ini dianggap tindakan kejahatan di mata Tuhan.

Dalam ayat 7-9, Yakobus memberi perhatian kepada “orang-orang yang benar” yang menjadi korban karena perilaku jahat dari orang kaya dengan ungkapan-ungkapan penguatan dengan kata “bersabarlah” dengan menghubungkan dengan “sampai kedatangan Tuhan” (ayat 7). Bersabar dapat juga dimengerti memiliki kemampuan untuk bertahan dalam meng-hadapi keadaan yang sangat sulit, seperti diperas, mendapat tekanan, mengalami ketidakadilan yang membuat orang-orang benar menderita. Kata sabar di sini dihubungkan dengan “meneguhkan hati” (ayat 8). Meneguhkan hati dapat berarti memiliki hati yang kuat, tetap teguh pada tujuan hidup dan tidak menyerah. Ungkapan-ungkapan sabar dan meneguhkan hati diingatkan Yakobus berulangkali untuk berpengharapan pada kedatangan Tuhan, bahkan dikatakan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Tentu saja memahami kedatangan Tuhan sudah dekat tidak harus dimengerti bahwa Yakobus mau mendahului kehendak Tuhan, tetapi lebih pada harus tetap memiliki pengharapan yang pasti bahwa Tuhan pasti akan datang. Yakobus juga mengingatkan pada ayat 9,  supaya orang-orang benar jangan bersungut-sungut dan saling mempersalahkan. Tentu saja, ketika kehilangan kesabaran mereka dapat saja bersungut-sungut dan saling mepersalahkan satu dengan yang lain. Ungkapan bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, sudah pasti akan membuat mereka “berdosa” dalam kata-kata, apalagi mulai mempersalahkan satu dengan yang lain.

Ayat 10-11. Yakobus masih merasa perlu untuk mengingatkan orang-orang benar yang sedang mengalami penderitaan untuk belajar kepada para nabi. Ikutilah teladan para nabi yang rela menderita demi kebenaran, tetapi mereka sabar menanggung-nya. Pada ayat 11, disebut Yakobus, mereka berbahagia karena mereka bertekun. Kata bertekun digunakan Yakobus dengan mengambil pengalaman Ayub. Mereka tentu tahu ceritera tentang Ayub yang menderita luar bisa tetapi akhirnya mendapat belas-kasihan Tuhan. Yakobus mengingatkan mereka bahwa Tuhan itu sesungguhnya penyayang dan penuh belas kasih kepada umat-Nya yang sabar, kuat dan bertekun.

Makna dan Implikasi Firman
  • Sesungguhnya, tidak ada yang salah bagi orang-orang percaya yang kaya. Kaya atau memiliki harta benda yang melimpah dengan catatan didapat atau diperoleh dengan benar. Namun demikian, perlu disadari bahwa kekayaan harus dikelola dan digunakan untuk “kehendak Tuhan”. Kehendak Tuhan dapat dimengerti bahwa harus digunakan untuk “pekerjaan atau pelayanan Tuhan”, termasuk di dalamnya harus berbagi-bagi “mereka yang miskin” karena suatu kondisi atau keadaan tertentu yang menjadikan mereka miskin.
  • Kekayaan atau harta benda hanya bersifat sementara, sebagaimana kesementaraan/terbatasnya hidup kita manusia di dunia. Karena itu, kita harus menjaga hati kita, jangan sampai kekayaan atau harta benda menjadi “berhala” bagi kita.
  • Ketika kita kaya, janganlah jadi sombong dan memeras orang-orang Hargailah kemanusiaan mereka dan berdayakan mereka bukan “perdayakan” mereka. Kita seharusnya senang, ketika ada banyak orang yang kita tolong dapat keluar dari kemiskinan dan mereka juga dapat menolong orang lain nanti.
  • Rancangan Tuhan pada awalnya tidak menciptakan manusia untuk hidup dalam kemisikinan. Kemiskinan terjadi ketika manusia jatuh dalam dosa. Karena itu, tentu tidak salah untuk kita sebagai orang percaya berjuang untuk menanggulangi kemiskinan. Gereja harus berperan untuk menanggulangi kemiskinan, dengan memberikan berbagai pelatihan bagi warga jemaat antara lain memberikan modal, dan mengorganisir kelompok-kelompok fungsional, supaya terjadi “keseimbangan” hidup seperti gaya hidup jemaat mula-mula dalam Perjanjian Baru. Gereja terus memberi perhatian pada pelayanan diakonia karitatif dan berlangsung tersistematis ke arah diakonia refomatif dan transformatif. Gereja kiranya tetap menjadi ujung tombak pada implementasi diakonia pendidikan dan kesehatan bagi warga jemaat-Nya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Mengapa Yakobus “sangat keras” menegur orang-orang percaya Kristen yang kaya pada masa itu sesuai  Yakobus 5: 1-11?
  2. Apa pendapat kita tentang ungkapan seperti: “kekayaan saya ini adalah hasil jerih lelah dan keringat saya sendiri, karena itu tidak harus saya berbagi seperti berdiakonia: Karitatif, Reformatif dan Transformatif) bagi orang-orang miskin ?
  3. Diskusikan tentang makna pengharapan kita bahwa ‘Tuhan pasti datang’ dalam konteks masyarakat yang hidup di dunia yang semakin modern ini.

NAS PEMBIMBING:

Galatia 6:2

POKOK-POKOK DOA:

  • Orang-orang percaya yang kaya, supaya tetap memiliki cinta kasih kepada Tuhan Yesus dan berkerelaan untuk berbagi.
  • Pemerintah, LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) dan Gereja supaya diberi hikmat untuk tetap memberi perhatian bagi mereka yang miskin.
  • Orang-orang percaya tetap teguh dalam iman menanti kedatangan Tuhan kembali ke dunia.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:

HARI MINGGU BENTUK IV

 NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : NNBT. No. 1 Pujilah Dia, Pujilah Dia.

Pembukaan : NNBT. No.4 Naikkan Doa Pada Allah.

Pengakuan Dosa : DSL 201 Sobat Yang Benar

Berita Pengampunan : NNBT No. 26 Tuhan Yesusku, Mutiara Hatiku.

Ses Pemb Alkitab : NKB No. 119 Nyanyikan Lagi Bagiku.

Persembahan: NKB No. 199 Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan

Penutup : NNBT No. 21 Pergilah Kamu.

ATRIBUT:

Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dengan salib berwarna kuning.