TEMA BULANAN: “Mengembangkan Spiritualitas Pelayanan”
TEMA MINGGUAN: “Pemimpin Yang Melayani”
Bacaan Alkitab : Yohanes 13:1-20
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pemimpin adalah seseorang yang menggunakan kemam-puannya, sikapnya, dan ciri-ciri kepribadiannya yang mampu menciptakan suatu keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Akan tetapi disadari bahwa ada pemimpin yang sukses mencapai tujuan organisasi dan ada yang gagal. Kegagalan dan kesuksesan tersebut bergantung pada beberapa faktor, antara lain: gaya kepemimpinan, managemen, pengorganisasian dan kepribadian yang salah.

Pada dasarnya setiap warga gereja, apalagi sidi-sidi jemaat adalah Pelayan Tuhan Yesus Kristus. Akan tetapi ada yang dipilih secara khusus yakni  melalui proses Pemilihan (sesuai JUKLAK dan TATA GEREJA). Menjadi seorang pemimpin dalam gereja (GMIM), dalam hal ini Pelayan Khusus yang sudah terpilih sangat diperlukan kerendahan hati, kecakapan dan keterampilan. Untuk memperlengkapi Pelayan Khusus agar memiliki kerendahan hati, kecakapan dan keterampilan, maka Ketekisasi Calon Pelayan Khusus sangat dibutuhkan. Karena itu wajib bagi Pelayan Khususyang sudah terpilih untuk mengikutinya.

Oleh sebab itu bertolak dari hal di atas, maka melalui tema “Pemimpin Yang Melayani”, kiranya dapat memberi pemahaman Alkitabiah bagaimana menjadi pemimpin yang berpola pada Kepemimpinan Kristus. Setiap orang yang dipilih harus memahami bahwa ia dipanggil oleh Yesus Kristus untuk memberi diri sepenuhnya dalam pembangunan tubuh Kristus.

PEMBAHASAN TEMATISPEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Cerita tentang Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya adalah cerita yang berdiri sendiri dan tidak terdapat dalam ketiga kitab Injil lainnya (Matius, Markus, Lukas). Dalam perikop ini Yesus terlibat dalam percakapan secara khusus dengan murid-murid-Nya di mana ini terjadi sebelum Paskah.

Yohanes 13:1 merupakan prolog semua narasi (cerita) perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya. Segala sesuatu telah diserahkan kepada Yesus untuk menggenapi misi dari Allah. Yesus datang ke dunia karena mengasihi orang berdosa dan mau memberi keselamatan kepada orang-orang percaya dengan memilih murid-muridNya untuk melayani bersama-sama.

Menurut tradisi Yahudi kuno, pembasuhan kaki (Yunani: nipto; melakukan pembasuhan, mencuci) biasanya dilakukan oleh hamba/pembantu. Namun perlu diketahui juga bahwa pembasuhan kaki adalah simbolik  pelayanan terhadap orang yang dalam suatu perjalanan dan tiba-tiba menginap di rumah orang lain, maka ada sikap dan tindakan pelayanan yang ditunjukkan oleh penerima tamu dan hal ini merupakan suatu tindakan pelayanan.

Sementara Yesus dan para murid-Nya sedang makan bersama, tiba-tiba Iaberdiri dan kemudian menanggalkan jubah-Nya (Yun: imation; pakaian), mengambil sehelai kain lenan lalu mengikatkan pada pinggang-Nya. Inilah ciri pakaian seorang hamba/pelayan. Hal ini dapatlah dimengerti sebagai suatu simbol bahwa Ia sedang melepaskan peran-Nya sebagai seorang Guru dan mengalihkan peran yaitu menjadi seorang hamba/ pelayan kepada murid-muridNya, tetapi juga meren-dahkan diri secara luar biasa.

Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah suatu perwujudan kasih yang begitu besar terhadap murid-murid-Nya. Makna dari pembasuhan itu adalah  penyucian rohani supaya murid-murid mendapat bagian dalam Kristus. Apalagi murid-murid-Nya bukanlah manusia yang sempurna, melainkan manusia berdosa, mempunyai banyak kelemahan sehingga harus dibersihkan, meninggalkan dosa, hidup diperbaharui dari hari ke hari.Makna selanjutnya tentang pembasuhan kaki adalah saling melayani dan merendahkan diri satu d engan yang lain. Sebagaimana Yesus adalah Guru (Yunani: didaskalos; pengajar) dan juga sebagai Tuhan (Kurios) yang sebenarnya harus dihormati, dijunjung oleh murid-muridNya namun Ia justru  membasuh kaki murid-murid-Nya.Tindakan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak hanya bicara, memerintah tetapi memberi contoh.

Hal penting yang diharapkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yaitu harus mendengar dan melakukan tugas tugas pelayanan/kehambaan yang melayani bukan dilayani. Dengan demikian, kebahagiaan (Yun. Makarios; penuh bahagia) para murid (pelayan)  adalah merendahkan diri dan melayani satu dengan yang lain.

Makna dan Implikasi Firman

Ditengah masyarakat yang majemuk kita memiliki status yang berbeda-beda berdasarkan pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Suami, istri, anak, pejabat, pemimpin, yang dipimpin, dan lain-lain. Semua status tersebut merupakan anugerah Tuhan, sekalipun berbeda-beda tetapi punya tugas panggilan bersama yakni melayani.

  • Dari kepelbagaian status itu nampaklah ada korelasi (hubungan) yang tidak dapat dilepaskan dari yang dipimpin kepada yang memimpin. Tidak jarang ada pemimpin yang otoriter melakukan tindak kekerasan terhadap orang yang dipimpinnya, dari lingkup keluarga, majikan kepada pelayannya sampai pada organisasi lainnya. Mengumpat dengan kata-kata kotor, tidak bersikap adil, pilih kasih, tidak mau merendahkan diri dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak patut dicontohi.
  • Seseorang yang telah dipilih menjadi pelayan khusus hendaklah bercermin pada sikap hidup Tuhan Yesus. Sekalipun Dia adalah Tuhan, Ia rela meninggalkan kemuliaan-Nya di sorga, datang ke dunia menjadi sama seperti manusia, bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya agar manusia diselamatkan. Selama Ia berada di dunia, Ia mengajarkan murid-murid-Nya bagaimana menjadi saksi. Melayani bukan dilayani, hidup sebagai pelayan yang merendahkan diri menjadi hamba yang membasuh kaki murid-murid-Nya, yang bukan hanya simbol, tetapi menjadi sikap hidup seorang pelayan yang sabar, rendah hati dan mau melakukan apapun karena kasih.
  • Dalam jabatan gerejawi apakah sebagai pelayan khusus: Syamas, Penatua, Guru Agama dan Pendeta harus dipahami sebagai panggilan mulia dan tidak menjadikan sebagai batu loncatan dalam rangka mendapatkan simpati demi kepen-tingan pribadi. Hindari bentuk-bentuk yang tidak sehat, dengki, irihati dan dendam bahkan maksud-maksud yang palsu.
  • Model kepemimpinan yang melayani nampak dalam sikap rendah hati, tidak sombong;suka membagi, tidak egois; pemaaf, tidak pendendam; melayani dengan kasih, tidak pilih kasih; tulus, tidak munafik; dan seterusnya. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa makna pembasuhan kaki yang dilakukan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya?
  2. Menurut anda hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seorang pelayan untuk memenuhi kriteria sebagai Pemimpin Yang Melayani ?

NAS PEMBIMBING: Yesaya 6:8 

POKOK-POKOK DOA

  • Agar pelayan Tuhan tetap melayani dengan penuh sukacita.
  • Para pelayan Tuhan dan jemaat sama-sama menopang pelayanan.
  • Ada kerendahan diri dalam melayani sesama .

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK V

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Persiapan :KJ No. 33 Suara-Mu Kudengar

Menghadap hadirat Tuhan: Melayani, Melayani Lebih Sungguh

Bersekutu dalam nama-Nya : KJ No. 18 Tuhan Allah Hadir

Ungkapan Sembah : KJ No. 1 Haleluya Pujilah

Persekutuan yang mengaku Dosa: Jam Sembayang Yang Kudus

Jaminan yang menguatkan: NKB No. 143 Janji Yang Manis

Berilah Yang Baik : KJ No. 450  Hidup Kita Yang Benar

Tembang Tekad : Hati Sebagai Hamba

ATRIBUT

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

 

SHARE

Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ?
Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi
Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here