TEMA BULANAN :“Persembahan Yang Menghidupkan”
TEMA MINGGUAN :“Saling Menghidupkan”
Bahan Alkitab : Kisah Para Rasul 2:41-47
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Zaman terus berubah, bertumbuh dan berkembang, ini terjadi di mana-mana yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Kemajuan ini tidak dapat dibendung atau ditolak, apalagi sekarang era keterbukaan khususnya masyarakat ASEAN yang kita kenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Era ini memaksa masyarakat untuk kompetitif dalam berbagai bidang kehidupan. Suka atau tidak, ini sudah sedang berlangsung dan semua orang terlibat di dalamnya menurut peran dan ruang masing-masing. Seperti itulah keadaan dunia sekarang ini, tidak ada yang harus disalahkan karena ALLAH sendiri juga yang  membentuk peradaban dunia seperti ini dan menempatkan umat manusia di dalamnya. Tetapi ALLAH menempatkan manusia bukan untuk menjadi serupa dengan dunia ini, (band. Roma 12:2).

Banyak hal yang perlu dan harus disikapi dalam kemajuan zaman ini, yang sangat penting antara lain: relasi atau hubungan antar sesama. Bahwa realitas kehidupan Kristen bahkan masya-rakat  sekarang ini menunjukkan suatu dinamika hidup yang makin jauh dari model kehidupan yang “saling”: tolong-menolong, membangun kebersamaan dan keutuhan, peduli satu dengan yang lain, dan saling menghidupkan. Fenomena “egosentris” (pemusatan pada diri sendiri) yang semakin akut membuat jalinan hubungan antar sesama sering diukur dengan tingkat kepentingan, untung dan rugi yang didapat. Bahkan saling merampas, saling menjatuhkan hingga saling membunuh semakin mengancam tatanan hidup bersama.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kisah para Rasul terkesan hanya berisi riwayat hidup, karya dan segala tindakan dari rasul-rasul. Memang tidak sepenuhnya demikian sebab kehidupan para rasul tidak banyak diungkap dalam kitab ini, bahkan tidak semua rasul dicatat hidup dan karyanya. Hanya beberapa rasul dengan peristiwa-peristiwa tertentu yang diangkat dalam kitab ini misalnya Stefanus seorang yang penuh Roh, karunia dan kuasa, yang melayani jemaat dengan tulus dan rela tapi kemudian dibunuh secara sadis (Kisah Para Rasul 6,7,8). Juga Filipus yang giat memberitakan injil hingga membuat sida-sida etiopia percaya dan memberi diri dibaptis (Kisah Para Rasul 8:4-40), kemudian rasul Petrus dan Paulus. Karena yang terutama hendak ditonjolkan dalam pemberitaan dan tulisan tabib Lukas sebagai penulis kitab ini adalah karya Roh Kudus yang besar, hebat dan luar biasa yang nyata pada para rasul dan orang-orang yang kepadanya Allah berkenan.

Kisah Para Rasul 2:41-47, merupakan akibat dari khotbah Petrus yang berani, tegas, dan penuh kuasa yang membuat hati orang banyak terharu (ay 37) sehingga tiga ribu orang menjadi percaya dan langsung memberi diri mereka dibaptis.

Peristiwa pembaptisan massal itu menimbulkan gerakan persekutuan umat yang menjadi model ideal persekutuan jemaat sepanjang masa. Beberapa fakta penting yang tercipta pada model kehidupan jemaat mula-mula yakni:

Pertama, mereka menerima dan percaya pada Kristus. Bahwa percaya sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat merupakan sikap yang pertama-tama harus ada pada seseorang. Kedua, mereka memberi diri dibaptis. Sakramen baptisan kudus merupakan peristiwa yang harus dilakukan oleh seseorang yang telah mengaku percaya kepada Kristus. Ketiga, bertekun dalam pengajaran rasul dan perse-kutuan. Keempat, selalu berdoa dan memecahkan roti/perja-muan/makan bersama. Kelima, berusaha menjaga agar tetap bersatu, kompak. Keenam, saling memberi, apa yang dimiliki dijual untuk diberikan kepada sesama yang berkekurangan. Ketujuh, selalu memuji Allah baik di rumah masing-masing maupun di bait Allah. Setelah mengaku percaya dan dibaptis, langkah selanjutnya adalah memelihara pengakuan iman itu agar tetap hidup dan kokoh.

Makna dan Implikasi Firman

Iman yang tumbuh pada diri seseorang tidak bisa dipisahkan dari persekutuan dengan orang lain. Kehidupan beriman suatu persekutuan itu mencapai ruang kesempurnaan dan efektif dalam tatanan hidup bersama yang saling meng-hidupkan. Kuasa Kristus mengubah orang-orang percaya yang tadinya hidup terpisah-pisah dan tidak saling mengenal, egois, serakah, angkuh dan sombong menjadi sekutu, rukun dan damai. Hidup dalam rasa sepenanggungan dan saling tolong menolong. Gaya hidup jemaat mula-mula yang dibangun di atas iman pada Allah menjadi contoh dan teladan bagi kita untuk tidak hidup dalam kebencian dan permusuhan serta memiliki hati yang rela untuk memberi dari apa yang dimiliki. Sehingga gaya hidup kekristenan kita diterima dan disukai oleh semua orang.

Gereja ada karena Yesus Kristus! Tanpa Kristus gereja hanyalah kumpulan orang-orang dengan berbagai kepentingan, napsu dan keinginan di dalamnya. Gereja tidak sama dengan perusahan yang mencari dan mengejar keuntungan sebesar-besarnya dan cenderung monopoli. Gereja tidak sama dengan partai politik yang berjuang untuk kepentingan partai, dan banyak kali saling menjatuhkan, menjelekkan bahkan saling mengancam. Tetapi gereja adalah kumpulan orang-orang yang mengaku percaya kepada Kristus dan dibangun di dalam kuasa Roh Kristus untuk memancarkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Di dalam gereja jangan ada keegoisan, monopoli dan kekerasan. Perbedaan-perbedaan di antara warga gereja tidak seharusnya membawa pada perpecahan atau menjadi sebab bertumbuhnya tembok pemisah, tetapi menjadi satu dan menjadi kekuatan (sekutu). Sebagai orang-orang yang telah mengaku percaya kepada Kristus, warga jemaat dan pelayan khusus harus mengubah gaya hidup (lifestyle), gaya berpikir (thinking style), gaya bicara (style of speech) dan gaya tindak (style acts). Semuanya terarah untuk terciptanya suasana yang saling menghidupkan dalam relasi antar sesama manusia; dimana kita tidak menjadi beban, tidak menjadi duri atau menjadi batu sandungan (troublemaker) tetapi menjadi batu penjuru atau penunjuk jalan bahkan menjadi berkat bagi orang lain. Juga menjadi orang yang peduli terhadap kelestarian alam semesta, tidak suka merusak lingkungan, tidak membuang sampah di sungai dan parit, tidak membuang sampah dari dalam mobil, dll.

Kita perlu menguji  keadaan dan model persekutuan kita apakah di dalamnya masih memancarkan tanda-tanda yang saling menghidupkan atau tidak.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Bagaimanakah cara hidup jemaat mula-mula?
  2. Bercermin pada cara hidup jemaat mula-mula apakah “saling menghidupkan”sudah nampak pada cara/gaya hidup kita sebagai keluarga, jemaat dan masyarakat? Jelaskan pendapat saudara! 

POKOK – POKOK  DOA:

  • Agar warga gereja terus bertekun membaca Firman dan berdoa
  • Diberi kemampuan untuk terus bersekutu dan bersatu janganmudah terpecah dan tercerai
  • Bertumbuh kesadaran untuk hidup berbagi/memberi. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK 5 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: NNBT No. 1  Pujilah Dia Pujilah Dia

Bersekutu Dalam Nama-Nya: KJ No. 249Serikat Persaudaraan

Persekutuan Yang Mengaku Dosa: NNBT No. 10 Ya Tuhan Yang Kudus

Jaminan Yang Menguatkan: NNBT No. 24 Kuasa-Mu Tuhan Selalu Kurasakan

Ses Doa Mohon Tuntunan Roh Kudus: NNBT No. 36 Barangsiapa Yang Percaya Kepada Tuhan

Berilah Yang Baik: NKB No. 111 Gereja Bagai Bahtera

Tembang Tekad:  Alangkah Indah Hidup Rukun

ATRIBUT :

Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dan salib berwarna kuning.

SHARE
Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ? Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here