TEMA BULANAN : “Berkarya dalam Penantian”
TEMA MINGGUAN : “Tuhan Mencipta, Manusia Memelihara”
Bacaan Alkitab : Kejadian 1:1-31
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Dunia di era post modern ini semakin semarak dengan berbagai ciptaan manusia sebagai dampak dari penguasaan teknologi. Contohnya: Baik siang maupun malam berbagai jenis pesawat kecil maupun besar terbang membelah langit sampai ketujuan. Bumi dengan daratan yang luas, berbagai jenis kendaraan lalu-lalang menyusuri jalan-jalan yang semakin baik, meski diantaranya ada yang perlu diperbaiki. Bahkan di kota Jakarta sedang dibangun rel kereta cepat menembus terowongan bawah tanah yang rencananya akan dimaanfaatkan tahun 2019. Tak ketinggalan pula dipermukaan lautan maupun dikedalaman berlayar melintas membelah air laut berbagai jenis kapal kecil maupun besar. Dan semakin ramai dengan adanya pem-bangunan pelabuhan baru maupun perbaikan dalam menopang program pemerintah melalui tol jalan laut. Kemajuan teknologi dalam penguasaan langit, bumi dan lautan tidak saja memberi dampak positif bagi kehidupan manusia tetapi nyatanya ada juga dampak negatifnya. Langit dan udara sering tercemar asap tebal akibat asap kendaraan tetapi juga terjadi bencana asap hasil pembakaran hutan untuk pelebaran lahan pertanian yang tak terkendali. Bumi menjadi kering merana pada musim panas dan kebanjiran pada musim hujan akibat penebangan pohon apalagi dengan menggunakan peralatan yang semakin canggih. Lautan pun tak luput dari pencemaran sampah-sampah plastik akibat ulah manusia yang membuang sampah di sungai. Sehingga jadinya sungai bukan lagi sumber air hidup tetapi sebaliknya menjadi sumber penyakit yang mematikan. Kalau jadinya kondisi langit, bumi dan lautan yang diciptakan Allah sudah demikian kacau-balau, apalagikondisi yang akan terjadi maupun harapan hidup ketikaumat manusia memasuki era baru ditahun 2018, maupun tahun-tahun selanjutnya. Dalam kondisi yang tak menentu itu ditampilkan tema: “Tuhan Mencipta, Manusia Memelihara”.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Bagian Kejadian 1:1-31 berasal dari sumber Imamat atau Priest (P) atau Priester Codex. Para imam yang giat pada masa setelah pembuangan di Babel berupaya memelihara tradisi-tradisi (=ajaran-ajaran) iman Israel yang terancam punah. Karena itu mereka menggumpulkan dan menuliskan kembali bahan- tersebut. Dari upaya ini lahirlah kumpulan bahan pengajaran iman Israel antara tahun 550-500 SM. Kisahnya, umat yang baru kembali dari pembuangan sedang menggumuli berbagai perta-nyaan tentang kehidupan, diperhadapkan dengan masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Mereka mempertanyakan bagai-mana harus memulai kehidupan baru ditanah yang sudah lama mereka tinggalkan. Para imam secara tersirat mengatakan: “Apapun yang nantinya terjadi, pegangan hidup yang terpenting (terutama) bagi umat ialah Allah sendiri yang menciptakan langit dan bumi”. Dengan penegasan itu dimulailah suatu era baru. Istilah (Ibr: ber’eyit) dapat dipahami sebagai satu “permulaan” atau “awal” dari zaman baru dimana zaman lama telah diakhiri dan zaman baru telah dimulai oleh Allah sendiri. Sebab “Allah telah menciptakan langit dan bumi”, Tegasnya yang mencipta adalah Allah yang diimani Israel dan bukan siapa-siapa. Lebih dari itu pengertian kata kerja  “menciptakan” (Ibr: bara’) tidak hanya menunjuk pada menciptakan sesuatu tetapi juga me-munculkan atau menghadirkan sesuatu yang baru. Dan yang dimaksud dengan “bumi yang belum berbentuk dan kosong”(Ibr: Yohu wabohu) menunjuk pada keadaan bumi Kerajaan Yehuda yang ditinggalkan selama 50 tahun sehingga tanah, rumah mereka terlantar, tidak terurus, rusak termasuk pemiliknya yang terbuang(negeri dan isinya). Kondisi itu menjadi “gelap gulita menutupi samudera raya” (Ibr: wekhoshek ‘al-peny tehom). Dan ketika Allah berfirman “jadilah terang” (Ibr: yehi’or) maka kondisi keterpurukan umat berganti pengharapan masa depan cerah. Situasi itu menurut Allah adalah baik adanya bagi umat sebab “terang” sudah dipisahkan dari “gelap” sebab dinamai-Nya (Ibr: Wayar ‘e’elohim ‘et-ha’or ki-tob), “terang itu siang dan gelap itu malam”, lalu jadilah petang dan pagi yang menandai karya kedaulatan Allah yang pertama. Kedaulatan Allah untuk melin-dungi umat-Nya dan sebaliknya umat harus terus bergantung pada-Nya menjadi sangat jelas pada ciptaan keempat yaitu ketika Allah menggantung benda-benda penerang sebagai pemisah siang dan malam, pada cakrawala atau langit (Ibr:yehi me’orot beriqi’a), yang sudah diciptakan pada hari kedua, tidak saja menjadi lambang melindungi tetapijuga mengartikan kualitas yang tinggi dan mulia dari Allah (berkuasa) dan air adalah sumber kehidupan umat manusia. Perlu dijelaskan bahwa “cakrawala” (Ibr: ragia) adalah bentangan yang kuat seperti kubah meng-gambarkan perlindungan Allah bagi umat-Nya. Dan ketika Allah memisahkan  air kehidupan umat  dibawah cakrawala dan air yang di atasnya dalam kepercayaan orang Babel sebagai ciptaan dan tempat berdiamnya dewa marduk, menunjukkan bahwa umat Tuhan dapat terlindung dan terpelihara dari ancaman kuasa dewa (ilah lain) yang mencemarkan kuasa Allah dalam pencip-taan-Nya. Karena itu jadilah air dibawah bentangan menjadi lambang kehidupan umat yang senantiasa terlindungi, terpelihara dan diberkati Tuhan di sepanjang kehidupan. Hal itu nyata dalam kuasa dan kedaulatan Allah ketika  menamai yang kering itu daratan menjadi tempat kehidupan dan berkembang biak segala mahkluk, ternak, binatang melata, segala jenis binatang liardan kumpulan air itu  lautan, sebagai tempat hidup berkeriapan ikan-ikan dan berkembang biak serta cakrawala di atas bumi beterbangan segala jenis burung (ciptaan kelima). Potensi-potensi itu dikaruniakan sebagai jaminan hidup umat-Nya di era baru sama seperti tumbuhnya tunas-tunas muda, tumbuhan berbiji dan pohon-pohon yang menghasilkan buah yang berbiji bagi kelangsungan hidup manusia sebagai ciptaan keenam. Manusia (Ibr: adam) yang dibentuk/diciptakan (Ibr.na’aseh) menurut kehendak Allah atau gambar dan rupa kita diamanatkan untuk berkuasa atas ciptaan-Nya. Kuasa yang dimaksud adalah memanfaatkan tetapi juga memelihara dalam tindakan “gambar dan rupa kita” artinya sesuai dengan kehendak Allah.Sebab semua ciptaan-Nya adalah “baik” bagi manusia, sama seperti kelangsungan pemeliharaan, perlindungan  Allah bagi umat-Nya yang tak pernah berhenti sejak kaum Yahudi yang dibaharui dan di negeri baru sesudah pembuangan menurut konteks  perikop, tetapi juga setiap insan manusia yang dibaharui, sampai kapanpun dan di era manapun.

Di Minggu pertama ditahun ini belum juga usai suasana tahun baru dalam mewarnai kehidupan di sekitar kita. Karena setiap penjumpaan kita masih saja diwarnai dengan jabat-tangan dan ucapan selamat tahun baru. Tradisi itu tentunya karena kesadaran kita akan kedaulatan kuasa Tuhan yang sudah berkenan melindungi dan memelihara hidup  kita di tahun yang baru lewat dan menganugerahkan kehidupan baru di era baru tahun 2018.  Memang disadari pula adanya kecemasan terhadap prilaku manusia yang negatif, yang ditopang oleh kecanggihan teknologi, yang semena-mena memporak-porandakan langit, bumi dan lautan yang adalah ciptaan-Nya yang baik. Kesadaran kita itu hendaknya melahirkan komitmen baru yang senantiasa dibaharui dengan kuasa dan kehendak Allah, untuk melindungi dan memelihara/merawat ciptaan Allah dengan baik. Sesungguhnya itulah rasa syukur kita terhadap kebaikkan Tuhan yang senantiasa melindungi dan memelihara kita diera baru ini bahkan disepanjang kehidupan kita, sehingga tidak tercipta kondisi kacau-balau dalam suasana hidup ke depan yang tak menentu. Komitmen iman kita hendaknya terus-menerus diberlakukan dengan baik sambil memperhatikan pesan rasul kepada Timotius: “Karena semua  yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan doa”. (I Timotius 4:4-5).

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Mencermati bacaan Kejadian 1:1-31, apakah pemahaman kita tentang karya ciptaan Tuhan yang baik dan amanat-Nya bagi manusia?
  2. Memasuki Tahun 2018 yang sudah dipastikan masih sarat dengan pemberlakuan kecangihan teknologi maka tindakan apa-apa saja yang berbuah pada kebaikkan yang tentunya positif untuk hidup kita dan terutama bagi kemuliaan Allah sekaligus sebagai syukur kita kepada-Nya dan mana yang tidak patut?
  3. Apakah tindakan nyata kita sebagai Gereja untuk memelihara ciptaan Allah sehingga langit tetap bersih dari polusi udara, bumi terhindar dari ancaman banjir dan kekeringan serta laut tetap jernih sebab terhindar dari sampah plastik yang berserakan. Dan bagaimana pula cara kita memanfaatkan potensi alam ini ? 

NAS PEMBIMBING: 1 Timotius 4:4-5. 

POKOK-POKOK DOA:

  • Mensyukuri karya ciptaan Tuhan yang baik manusia
  • Dunia dan bangsa di tengah maraknya kemajuan terknologi, agar tetap terkendali.
  • Pemerintah dalam mengatasi ancaman-ancaman bencana alam
  • Gereja dalam kepedulian merawat dan memelihara ciptaan Allah yang nyatanya baik bagi manusia
  • Tahun baru 2018 yang diwarnai kehidupan penuh harapan bagi Jemaat dan masyarakat. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:  HARI MINGGU BENTUK I 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Panggilan Beribadah: NNBT No. 1 Pujilah Dia, Pujilah Dia

Ses Nas Pemb : NNBT No. 2 Dunia Tercipta Oleh Kar’na Tuhan-Mu.

Pengakuan Dosa & Pemberitan Anugerah Allah: KJ No. 64 Bila Kulihat Bintang Gemerlapan.

Pengakuan Iman: KJ No. 280 Aku Percaya

Hukum Tuhan: NNBT No. 24 Kuasa-Mu Tuhan S’lalu Kurasakan

Ses Pembacaan Alkitab: NKB No. 119 Nyanyikanlah Bagiku

Persembahan : KJ No. 289 Tuhan Pencipta Semesta

Nyanyian Penutup: KJ No. 370 Ku Mau Berjalan Dengan Jurus’lamatku

ATRIBUT:

Warna dasar putih dengan lambang lilin di atas palungan.

SHARE
Ingin Publikasi informasi kegiatan jemaat/wilayah atau kegiatan apa saja tentang GMIM di website ? Silakan Hubungi Bidang Data dan Informasi Telp : (0431) 352123 Email : info@gmim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here