BAB III

MANUSIA 

Pasal 1

Allah Menciptakan Manusia: Laki-laki dan Perempuan 

Kami mengaku:

  1. Bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri (Kej.1:26-27). Itulah yang membedakan manusia dari segala ciptaan lainnya, agar manusia dapat berkomunikasi de-ngan Allah, sesama, dan mengemban mandat Allah untuk mengelola alam ciptaan-Nya (Kej. 2:7, 16-17; 1 Kor. 3:16; 6:17-20; 1 Tes. 5:23; Yak. 2:26).
  2. Bahwa Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan dalam kedudukan yang sederajat dan sepadan (Kej. 2:18).
  3. Bahwa seorang laki-laki dan seorang perempuan diciptakan-Nya agar menjadi pasangan seumur hidup, yang menyatu dalam kasih dan saling melengkapi[1]. Inilah dasar pernikahan yang sah dan benar (Kej. 2:24; Ef. 5:31-33) dan oleh karena itu kami menolak poligami dan perkawinan pasangan berjenis kelamin yang sama.[2] Menolak perceraian dan me-nolak kumpul kebo (Belanda: samen leven), kawin kontrak.[3] (Mat. 19:6; Mrk. 10:9).

Pasal 2

Manusia dan Tugasnya Mengelola Alam 

Kami mengaku:

  1. Bahwa Allah memanggil dan mengutus manusia untuk menunaikan tugas ber-sama dalam mengelola, menata dan memeliharan alam ciptaan-Nya secara bertanggung jawab (Kej. 2:15; Mzm. 104:8).
  2. Bahwa Allah memberikan tanggung-jawab, kewenangan dan kemampuan agar manusia sanggup mengelola alam semesta serta isinya dengan berpikir dan bertindak sesuai kehendak Allah demi keutuhan ciptaan-Nya (Kej. 2:15-16).

Pasal 3

Manusia dan Kejatuhannya ke dalam Dosa 

Kami mengaku:

  1. Bahwa oleh karena ketidaktaatan kepada Allah dan firman-Nya, manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:8-19; Yes. 59:12). Manusia lebih suka mendengar-kan godaan Iblis dan melawan kehendak Allah. Akibat pemberontakannya itu ma-nusia jatuh ke dalam dosa dan upahnya adalah maut (Rm. 3:23; 6:23). Kon-sekuensi dosa adalah rusaknya hubungan persekutuan manusia dengan Allah, sesama dan alam.
  2. Bahwa dosa telah merasuki manusia (Mzm. 51:5) sehingga manusia tidak taat kepada Allah dan tidak ber-tanggung-jawab terhadap sesama dan alam semesta dan menodai citra manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Di sinilah akar dari segala kejahatan (Yoh. 8:44).[4]
  3. Bahwa sekalipun manusia telah jatuh ke dalam dosa, Allah tetap mengasihi manusia dan memprakarsai agar manu-sia tetap hidup sebagai gambar dan rupa Allah (Yes. 53:3, Yoh. 3:16).
  4. Bahwa sikap saling menjatuhkan (Bhs. Manado: ”baku cungkel”) adalah ekspresi dosa yang harus dilawan.
  5. Bahwa pengusiran setan (eksorsisme) merupakan karunia yang diberikan Tuhan kepada anggota jemaat tertentu yang dapat menjadi bagian dalam pela-yanan Gereja (Mat. 8:16; 10:1; Mrk. 3:15; 6:13.) 

Pasal 4

Manusia dan Penebusan serta Pembaharuan Hidup

Kami mengaku:

  1. Bahwa Allah yang oleh kasih-Nya yang begitu besar mengutus Yesus Kristus yang lahir sebagai manusia, rela menderita, disalibkan, mati, dikuburkan dan bangkit dari antara orang mati bagi penebusan dosa manusia (Yes. 52:13-53:12; 3:16; Fil. 2:5-11; Ef. 2:1-10).
  2. Bahwa oleh kasih dan kemurahan-Nya yang begitu besar melalui Yesus Kristus, manusia mendapatkan kembali martabat-nya selaku gambar dan rupa Allah, sehingga memulihkan hubungan perseku-tuan dengan Allah, sesama dan alam semesta.
  3. Bahwa Allah tetap bekerja di dalam Roh-Nya membawa kita kepada pertobatan (Kis. 9:1-31; Gal. 2:20) untuk mengu-duskan, membaharui (Gal. 5:16-21; 4:17-5:21), menuntun, menghibur (Yoh. 14:15-21; 16:4b-15), memperlengkapi, dan menyempurnakan sampai akhir zaman (Rm. 8:1-17).

Pasal 5

Manusia dan Karyanya 

Kami mengaku:

  1. Bahwa sejak manusia diusir dari taman Eden, Allah menetapkan manusia untuk bekerja, dan berusaha keras[5] demi me-menuhi kebutuhan hidupnya. (Kej. 2:15; 2 Tes. 3 : 10).
  2. Bahwa kerja adalah amanat yang dibe-rikan Allah kepada manusia untuk meng-olah kekayaan kasih karunia-Nya bagi kesejahteraan manusia. Dengan demikian kerja adalah ibadah kepada Allah. (Luk. 5:4-5, 10:2; Yoh. 6:27).
  3. Bahwa segala hasil kerja adalah anugerah Allah yang harus dipertanggungjawab-kan, yang didapatkan dengan cara yang benar, adil, jujur, kerja keras. Karena itu, manusia harus memanfaatkannya de-ngan hemat bagi kesejahteraan hidup yang berkeadilan, berbagi dengan ses-ama,dan bukan untuk kesenangan diri. (Kis. 20:34-35).
  4. Bahwa orang percaya harus bekerja keras (2 Tes. 3:10)[6] dalam kebersamaan dan saling topang menopang ( 6:2 ;[7] Ef. 4:28).

 [1] Jika ada anggota jemaat yang memilih untuk hidup sendiri, itupun dihormati oleh Gereja (band. Mat. 19:12; 1 Kor.7:1,7)[2] GMIM menolak poligami (Kej. 2:22-24;Yeh. 16:8; Yes. 54:5-8; Mal. 2:15;Mat. 19:4-6; Mar. 10:6-9; Ef. 5:31). GMIM mengasihi dan melayani orang-orang yang mengidap dan berperilaku LGBT (lesbian, gay, bisexual dan transgender) tetapi menolak pembe-naran ideologi LGBT dalam kehidupan pelayanan GMIM. GMIM menolak pernikahan sejenis.[3] Tentang  kawin  beda agama (kawin campur), sebelum perkawinan dilangsungkan perlu ada penggembalaan khusus dari Pendeta (band. 1 Kor.7:12-16). [4]  termasuk  semua bentuk kriminalitas.[5] Perhatikan istilah “berkuasalah” dan “taklukkanlah” dalam  Kej.1:26,28.[6] Tuhan mengecam kemalasan (Ams.6:6-11; 18:9; 19:15; [7] Di sinilah arti Mapalus,  Manado  dalam  tradisi Minahasa dikembangkan.

Translate »