TEMA BULANAN : “Penatalayan yang Memiliki Kapabilitas, Integritas dan Komitmen”
TEMA MINGGUAN : “Syarat Mengikut Yesus”
Bacaan Alkitab : Matius 16 : 21 – 28
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Sebagai warga GMIM, kita telah menyelesaikan pemilihan di aras jemaat dan wilayah, dan saat ini kita dalam persiapan pemilihan di aras Sinodal. Bersamaan dengan ini, beberapa kabupaten di tanah Minahasa juga dalam persiapan pilkada, hal ini berarti bahwa ada kegiatan penting yang sangat berpengaruh dalam pelayanan GMIM. Sebagai jemaat, kita berharap pe-mimpin-pemimpin yang terpilih akan mampu menghadirkan  nilai kehidupan sesuai dengan tatanan firman Tuhan. Kita per-caya mereka yang terpilih nanti mampu memahami bahwa tanggungjawab yang dipercayakan adalah panggilan iman. Persoalan yang dihadapi saat ini, yakni manusia cenderung secara bebas menginterpretasi makna panggilan iman itu. Tidak tertutup kemungkinan orang memahami hal ini dari aspek kepentingannya. Kita tidak dapat menafsirkan bahwa manusia akan menganggap benar apa yang dianggap menjawab kepen-tingannya, dan menganggap salah sesuatu yang merugikannya. Akhirnya manusia sering menempatkan diri menjadi subjek (ukuran), hal inilah yang menyebabkan munculnya stigmatisasi dan konflik. Kita menyadari bahwa aspek subjektisme sering mengganggu pelayanan gereja dan masyarakat. Hal seperti ini tentu saja perlu kita tinggalkan, sebab yang kita imani ialah Tuhan dalam firman-Nya adalah mutlak sebagai subjek. Ini berarti orang percaya harus mengkronstruksi ulang pola pikir  dengan kata lain butuh penyengkalan diri sebagai syarat untuk mengikut Yesus.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Injil Matius menyampaikan Firman bahwa Yesus datang ke dunia untuk menggenapi perjanjian keselamatan antara Allah dan manusia. Inti  beritanya adalah Yesus dan pengajaran-Nya mau meluruskan/mengembalikan makna sesungguhnya dari arti menjadi umat pilihan Allah (Mat 5:17). Hal ini berarti Yesus datang untuk mengubah pola pikir berpikir orang Yahudi tentang hal kerajaan Allah. Dalam doktrin Yahudi, Mesias akan datang untuk mendirikan kembali kerajaan Israel seperti pada masa kejayaan Daud. Itulah sebabnya Mesias mendapat gelar anak Daud. Yerusalem dianggap akan diubah menjadi ibu kota kerajaan Allah. Mesias yang akan datang akan membangun/ mengokohkan ibadat Israel di Bait Allah. Ibadat di Bait Allah dipandang sebagai gambaran dari kondisi kerajaan Allah (sorga) (band. Mazmur11:14, 65:5, 92:15 Yeremia .17:12). Yesus harus pergi ke Yerusalem, memang menegaskan bahwa kehadiran Yesus untuk menghadirkan Kerajaan Allah. (lih. Matius 6:10, 13:11, 16:19, 25: 34, band Lukas 11:20). Akan tetapi konsep Kerajaan Allah ini berbeda dengan apa yang dipahami orang Yahudi. Bagi Yesus, kerajaan Allah dimulai dengan penebusan dosa dan penyataan kebenaran Allah yang “terefleksi” dalam keutuhan umat Allah yang menempatkan Allah sebagai yang Mahakuasa/Raja. Dengan kata lain yang diutamakan dalam kon-sep Kerajaan Allah  adalah persekutuan umat Tuhan. Hal ini sejalan dengan Matius 16:18 “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini aku akan mendirikan jemaat-Ku…” pemikiran ini sangat berbeda dengan pola pikir berpikir orang Yahudi yang mengutamakan kuasa. Konsep ini dianggap berbahaya oleh orang Yahudi. Dan inilah yang dijadikan alasan untuk penya-liban Tuhan Yesus. Orang Yahudi menganggap pengajaran Yesus menghilangkan kesakralan Yerusalem dan Bait Allah, bahkan Petrus pun memiliki pandangan yang sama sehingga dia menegor Yesus. Tegoran keras Yesus kepada Petrus  “enyahlah iblis” (terj: mundurlah dibelakang, mengikuti apa kata Yesus). Mengingatkan Petrus untuk menundukkan keakuannya pada kehendak Allah. Orientasi kekuasaan menjadi alat iblis untuk mengiring manusia pada subjektifisme. (band. Matius 4:9-10).

Menundukkan kehendak diri pada Kristus menjadi pokok peng-ajaran Yesus tentang hal mengikut Dia. Baik Petrus dan para murid diharuskan mengubah pola berpikir. Yesus menyinggung segala upaya orang Yahudi yang mau mempertahankan status quo Yerusalem, yang pada puncaknya tahun 70 M Yerusalem hancur dan puluhan ribu orang tewas dan tidak memberi dampak apapun bagi Yudaisme. Sebaliknya sejarah mencatat bahwa pengorbanan para martir menjadi momen kebangkitan bagi gereja menjadi bukti akan penggenapan janji firman-Nya bahwa pengorbanan para martir menjadi suatu kemuliaan bagi Allah. Kehadiran jemaat (gereja) menjadi hal yang sangat penting untuk memahami perkataan Yesus (ayat 28) ada benang merah penghubung Matius 16:18-19; Yerusalem (ayat-21), yang nantinya menjelaskan bahwa persekutuan jemaat inilah yang nanti menggambarkan kemuliaan Kristus dan Kerajaan-Nya. Matius 21:43 menyinggung pengalihan status kerajaan Allah dari Yudaisme kepada suatu bangsa yang dipilih Allah. Dihubungkan dengan Matius 16:18-19, maka bangsa yang dimaksud adalah persekutuan orang-orang percaya (gereja). Jika demikian gereja haruslah menampakkan kemu-liaan Kristus atau paling tidak gereja harus mampu meng-hadirkan tanda-tanda kerajaan Allah.

Makna dan Implikasi Firman

Gereja terpanggil untuk membaharui dunia. Yesus telah memilih para murid untuk menjadi teman sekerja-Nya guna menata-layani Gereja. Panggilan pemilihan ini disertai dengan panggilan tunduk/mengikut di belakang Tuhan. Setiap pribadi yang di-panggil harus meletakkan keinginanan pada kehendak Tuhan. Orang terpilih harus menempatkan Kristus dan kehendak-Nya sebagai subjek. Menyangkal diri akan mendapat makna yang sesungguhnya ketika nilai-nilai subjektifisme menusia dikalah-kan. Orang percaya memang hidup bertumpu pada pengha-rapan. Akan tetapi jika pengharapan itu bertumpu pada kei-nginan daging maka hal itu akan berbuah dosa. Segala kei-nginan manusiawi sering berbuah pada konflik, perpecahan, stigmatisasi (cap negatif) bagi pribadi orang. Sebaliknya gereja harus mengemban tugas menyatukan, mengutuhkan, sebagai simbol dari kemuliaan Kristus sebagaimana doa Yesus yang disebutkan dalam Yohanes 17:21 supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkau yang telah mengutus Aku. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa yang ada pahami tentang perkataan Yesus: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24) ?
  2. Apa yang harus kita lakukan untuk menjadikan hidup kita sebagai pengikut Yesus ?

NAS PEMBIMBING: Yohanes 8:12 

POKOK-POKOK DOA:

  • Penyelengaraan Pemilahan Badan Pekerja Majelis Sinode.
  • Memohon hikmat untuk pengenalan yang benar tentang arti mengikut Yesus.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: MINGGU SENGSARA IV. 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: KJ.No.405 Kaulah Surya Hidupku

Ses. Nas Pemb : KJ No. 249 Serikat Persaudaraan

Pengakuan Dosa: KJ.No.168 Hai Dunia Lihat Tuhan

Pemberitaan Anugerah Allah: NNBT No. 26 Tuhan Yesus Mutiara Hatiku

Ajakan Mengikuti Yesus di Jalan Sengsara : KJ No.372 Inginkah Kau Ikut Tuhan

Ses Doa, Pembacaan Alkitab: NNBT No. 13 Ya Allah Bapa Ya Yesus Tuhan

Persembahan      : KJ No. 169 Memandang Salib Rajaku

Nyanyian Penutup: KJ No. 178 Kar’na Kasih-Nya Padaku 

ATRIBUT:

Warna dasar ungu dengan simbol XP (Khi-Rho), cawan pengucapan, salib dan mahkota duri.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here