Hidup dalam Kerendahan Hati

1 Tawarikh 17:16

Manusia kadangkala menjadi kecewa dan putus asa ketika harapan dan impiannya tidak tercapai. Bentuk ekspresi dari kekecewaan itu diwujudkan dalam cara hidup dan cara pandang tentang kehidupan yang dijalani ataupun mempersalahkan orang lain.

Raja Daud ketika  mendengar dari  Nabi Natan bahwa  bukan dia  yang akan membangun Bait Allah melainkan keturunannya (ayat 4,11,12), tidak membuat dia menjadi kecewa dan putus asa tetapi justru dia datang kepada Tuhan dalam kerendahan hatinya melalui doa  dengan penuh ucapan syukur. Ucapan doa Daud “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah dan siapakah keluargaku sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” Adalah bentuk kerendahan hati Daud atas karya keselamatan Allah yang ia alami bersama keluarga dan bangsanya. Doanya juga   menjelaskan tentang perjalanan kehidupan Daud yang disampaikan Tuhan melalui nabi Natan, yaitu Tuhan telah mengangkatnya  menjadi raja seperti yang diungkapkan dalam 1 Tawarikh 17:7 “Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel”.

Demikian juga dengan kita sebagai keluarga, ketika  menjalankan tugas/pekerjaan sering hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Namun firman ini menasihatkan kita supaya jangan kecewa dan putus asa, melainkan tetap berdoa kepada Tuhan dengan  kerendahan hati untuk meminta petunjuk-Nya  sebab Tuhan pasti mendengar dan menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan. Amin.

 

Doa: Ya Tuhan sumber berkat, ajarlah kami untuk mengerti maksud dan kehendak-Mu bagi  kami dan mampukanlah kami untuk selalu hidup dalam kerendahan hati. Amin.