Puasa Ester [Ester 4:15-17]

     Sungguhpun sulit kita harus berjuang keluar dari pergumulan. Bagaimana memulaikannya? Caranya adalah dengan menyusun strategi yang tepat. Untuk dioperasional-kan. Harus dilaksanakan, tidak ada waktu untuk menunggu apalagi menundanya. Kita tidak boleh membiarkan dipasung oleh ketidakberdayaan.

Belajarlah dari Ester, di saat-saat genting Ia, mengambil langkah yang tepat. Mengurai benang kasut pergumulan dengan doa-puasa. Selama tiga hari, ia memohon agar orang-orang Yahudi yang tinggal di Susan, turut serta menopangnya dengan berdoa-puasa. Tidak makan dan minum. Berpuasa bukanlah sekedar tidak makan dan minum, namun intinya adalah memohon pertolongan Tuhan, dengan merendahkan diri di hadapan-Nya. Bahwa dari Tuhanlah datang petolongan bagi umat yang akan binasa.

Keteguhan  hati mendasari sikap Ester ini, dari perempuan peragu dan penakut mengambil resiko, kini menjadi peremuan yang kokoh dan kuat. Tanpa bimbang, ia berkata dengan berani : … Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati. Puasa Ester menggambarkan kepada kita bahwa tindakan besar dimulai dengan berdoa. Sebuah langkah kecil yang sederhana. Menyertakan Tuhan dalam tnggung jawab kita. Bagaikan anak kunci, membuka pintu ruang kasih yang besar dari Allah. Berpuasa adalah tanda kesediaan diri, untuk hanya berharap kepada Allah. Dengan mengetuk pintu belas kasih-Nya agar membuka pintu kemurahan-nya bagi umat yang akan binasa.

Sebagai keluarga Kristen yang tak luput dari berbagai persoalan dan tantangan, kitapun diajak untuk memohon pertolongan Tuhan dengan berdoa puasa. Kalau Ester melakukannya selama 3 hari maka Tuhan Yesus pernah berpuasa selama 40 hari.
Dengan berbuat demikian maka sebenarnya kita sementara memohon kiranya Tuhan menyatakan kemurahan dan kasih-Nya untuk menolong kita. Amin.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah keluarga kami untuk berdoa puasa, tidak hanya untuk menghadapi pergumulan kami sendiri tetapi juga untuk menopang orang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here