Mengendalikan Emosi

Matius 27:25-26

         Mengambil keputusan dalam keadaan emosi, hati yang panas dan marah akan membuat cara berpikir kita tidak sehat yang akhirnya mempengaruhi berbagai kesimpulan, dan kebanyakan dari kesimpulan itu sangat merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Apalagi bila keputusan yang diambil disertai dengan sumpah yang tidak harus diucapkan, termasuk melibatkan keturunan yang belum dilahirkan; hal ini pasti menimbulkan kesengsaraan yang tidak diketahui oleh keturunan kita.

Bacaan kita hari ini dimana  banyak orang  mengambil keputusan yang sangat emosional terutama dalam hal memaksakan pembebasan Barabas dan menyalibkan Yesus, bahkan Pilatus pun akhirnya mengambil keputusan emosional di bawah tekanan orang banyak. Selain itu, ungkapan emosional yang “menyumpahi” kehidupan mereka dan anak-anak mereka, termasuk anak-anak yang belum dilahirkan, adalah perbuatan yang tidak harus mereka ucapkan bila hanya untuk memaksakan kehendak mereka. Ini meng-ingatkan kita kepada ratapan Israel atas dosa yang dilakukan nenek moyang mereka (Ratapan 5:7 Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka).

Dalam penghayatan iman diminggu-minggu sengsara ini, Firman ini, menuntun hidup dan kehendak hati serta pikiran kita untuk dapat mengendalikan emosi dalam kehidupan sehari-hari atau tidak mengambil keputusan menurut desakan orang lain yang belum tentu benar, melainkan berdasarkan kebenaran menurut kehendak Allah. Amin.

Doa: Ya Tuhan peliharalah kami dalam kasih-Mu, agar hati kami terkendali untuk melakukan hal-hal bermanfaat, baik untuk diri kami maupun orang lain. Amin.