Menyikapi Kematian Orang yang Dikasihi

Bilangan 27:3

Ditinggalkan orang tua karena kematian menimbulkan duka yang dalam. Di samping itu kehidupan masa lalu orang tua  yang sulit dilupakan menjadi pergumulan tersendiri. Sebagai anak apapun kelebihan atau keburukan orang tua,  anak tetaplah anak, ia tidak dapat dipisahkan dari orang tuanya.

Ada pepatah mengatakan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Anak-anak Zelafehad yang semuanya adalah perempuan mengakui tentang keberadaan ayah mereka pada waktu ia hidup dan bagaimana ia mati.

Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel mengalami berbagai kesengsaraan. Hal ini membuat mereka bersungut-sungut dan bertindak melawan Allah. Kesepakatan kumpulan Korah melawan Allah ini mengakibatkan mereka semua mati di padang gurun. Kesan ini sangat memengaruhi mereka yang masih hidup.

Anak-anak Zelafehad mengakui dosa ayah mereka, tetapi ayah mereka tidak terlibat dalam kesepakatan melawan Allah. Dosanya adalah dosa pribadi, bukan dosa  komunitas.

Pernyataan anak-anak Zelafehad ini mengingatkan kita tentang adanya dosa terencana dan dosa yang mengajak orang lain untuk ikut terlibat di dalamnya. Sikap dan perilaku demikian, sungguh sangat tidak pantas dilakukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Keluarga yang diberkati Tuhan, kendati demikian sikap yang patut dicontohi dari anak-anak Zelafehad ini adalah kejujuran dan pembelaan secara proporsional terhadap orang tua mereka. Sikap ini menggambarkan kelapangan hati atau jiwa besar anak-anak ini menyikapi keberadaan orang tua atau orang yang dikasihi dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Orang tua kita bukanlah manusia yang sempurna seharusnya kitapun belajar menghargai dan menghormati mereka yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Amin.

Doa: Tuhan Yesus tolonglah kami menjadi anak-anak yang mengasihi dan menghormati orang tua kami. Berikanlah kami kemampuan berjiwa besar menghadapi  hal-hal yang berkaitan dengan orang tua kami. Amin.